Empati

Empati berjalan dari satu dunia ke dunia yang lain. Mencoba membuat semua orang merasa nyaman dengan memberikan perhatian kepada setiap masalah yang dialami oleh manusia. Saat ini mungkin Empati mendapat istilah baru yaitu kepo. Sayangnya, kepo cenderung negatif, jadi menurut saya kurang tepat jika digunakan untuk mengejewantahkan Empati.

 

Mengapa Empati bertahan? Karena masalah manusia takkan pernah usai hingga akhir hayat. Mulai masalah remeh hingga pelik. Mulai masalah sehari-hari hingga masalah berkepanjangan.

 

Empati menyukai melankolis. Melankolis tersembunyi hanya bisa dirasakan oleh hati. Namun beberapa saat ia akan muncul dakam bentuk perhatian terhadap hal-hal nyata. Seperti lirik lagu yang menggugah, bait puisi yang mengalir laksana air sungai dari pegunungan menuju lautan lepas.

Melankolis memiliki kesamaan dengan Empati. Mereka telah berjalan lama di dunia ini.

 

Banyak sekali versi tentang mereka, bahkan mengenai umur mereka. Ada yang bilang mereka telah ada semenjak lahirnya semesta ini. Ada pula yang bilang mereka baru berusia 29 tahun. Dan ada juga yang menyatakan meraka tidak hidup namun tidak pula mati. Mereka cuma.. ada.

 

Meraka muncul dalam bentuk pertanyaan “sudahkah kamu makan?”. Mereka juga muncul dalam bentuk gugatan seperti “mengapa aku tidak di beritahu?”. Dalam bentuk lain, Empati muncul ketika dipancing keluar oleh ketertarikan seseorang terhadap Empati namun ketika Empati berhasil keluar, ketertarikan tersebut semu. Seseorang tersebut kabur dengan meninggalkan banyak pertanyaan yang tak bisa Empati jawab. Namun Empati memiliki kekuatan untuk bertahan. Bertahan untuk disakiti, dicerca, bahkan dicemooh. Empati senang jika diperhatikan, senang jika didengar dan senang jika diakui keberadaannya.

 

Bukan berarti Empati pamrih. Ini semata-mata suatu hubungan timbal balik antara suatu perasaan mendasar yang dimiliki oleh individu yang hidup dalam semesta ini. Bukan hanya manusia, tumbuhan bahkan binatang pun memiliki Empati. Bahkan mereka lebih bisa menunjukkan rasa ini.

 

Bagi manusia, Empati hanya akan bertahan jika ditemani oleh Pengertian, Percaya, dan Komunikasi. Jika salah satu dari meraka tidak hadir, maka terasa kurang.

 

Perjalanan Empati masih jauh.

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure Google+
This entry was posted in Cuapcuap, monolog, SibukDenganPikiran and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s