[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Advertisements
Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | Leave a comment

“Bangun, jangan tidur di luar seperti ini” katamu seraya menepuk pipiku

Malam itu kamu memang ingin tidur di luar. Gerah. Bukan hanya cuaca kota yang kian memanas namun telinga pun semakin memerah karena jengah mendengarkan masalah orang yang tiap hari di bicarakan tanpa mencari solusi yang jelas.

“Resiko tinggal di kampung yang padat” komentar salah seorang Sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesahmu ketika malam menemani kalian bersama segelas kopi hitam diatap kontrakan.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanyamu suatu ketika.

“Biarkan saja dan lihat apa yang terjadi. Hidup berjalan terus. Waktu takkan pernah terulang. Nikmati saja Hari demi Hari yang kamu lalui” jawabnya mantap.

“Bulan malam ini begitu terang dan Indah” ucapmu kepada putramu. Berbohong sedikit dengan mengatakan bulan itu indah adalah hal biasa yang dilakukan manusia di negara ini. Dan masih banyak bohong-bohong ‘Putih’ lain yang dilakukan oleh masyarakat seakan tidak peduli.

“Aku mau tidur di tenda” timpal anakmu, seakan bisa membaca pikiranmu untuk menikmati bulan dan malam ini denganz tidur di luar kamar kontrakan yang memang tidak begitu luas dan nyaman.

Tenda di buat nyaman, hammock dan sleeping bag pun tidak ketinggalan. Waktu belum tengah malam ketika Mata mulai terpejam. Gelisah. Resah. Gerah.
Ada apa ini? Pikirmu ketika kamu mendengarkan suara2 yang ingin membangunkanmu dari tidur.
Ajakan untuk tidur bersama pun di tawarkan. Bulan memang begitu Indah malam itu. Cerah sekali dan awan malu untuk menunjukkan wajahnya.

Mendekati tengah malam suara-suara itu Makin jelas dan diatas hammock yang bergoyang kamu di bangunkan dengan ditepuknya pipimu dan suara hujan serta basahnya air membuatmu semakin percaya bahwa ini nyata. Namun ketika kamu bangun bulan masih bergantung di cakrawala, awan pun masih malu-malu namun menemani. Dan tentu, tidak ada apa pun yang ada di situ. Yang ada hanya pipi yang memerah karena bekas tepukan – lebih bisa disebut tamparan sebenernya.

Posted in #aksararaska, #badai, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment
<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/b28b9b4f-8a08-4e07-a4b5-a484ee2b8044/original.jpg" />
View on <a href="https://path.com/p/WbkEuuh0gG_rQqkM">Path</a>
Posted in #LiFe | Leave a comment

Pergerakan Lempeng Indo Australia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pergerakan kini semakin marak dibicarakan. Mulai dari pergerakan politik negara, pergerakan teroris yang kian hari kian absurd dan tidak lupa pula pergerakan komunitas ojek daring yang menjadi polemik baru bagi pemerintah.

Namun ada pergerakan yang diam-diam dan perlahan bergerak namun jika sekalinya bersuara akan menimbulkan bencana bagi umat manusia.

Pergerakan lempeng Indo Australia yang menurut Hall (2012) bergerak ~7 cm/tahun ke arah Timur Laut akan mengakibatkan bergesernya lempeng dan mengakibatkan gempa.

Besar kecilnya gempa yang ditimbulkan akan sangat berpengaruh kepada kehidupan manusia yang menempati daerah pemukiman.

Gempa masih menjadi bencana yang ditakuti oleh manusia karena gempa bisa bergetar pelan sehingga cuma instrumen peka yang bisa mendeteksi getaran tersebut. Dan gempa pun bisa menimbulkan getaran yang bisa merobek jalanan, bangunan hingga gunung yang dilewati oleh jalur gempa tersebut.

Negara Indonesia terletak di antara dua jalur gempa, yang juga merupakan jalur pegunungan api dunia atau yang lebih dikenal sebagai Cincin Api dan oleh karena itu rentan untuk mengalami bencana yang diakibatkan oleh pergeseran lempeng dan meletusnya gunung api.

Dua-duanya tentu bukan pilihan namun siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi? Alih-alih peperangan dengan bangsa sendiri yang kini semakin terasa friksi yang terjadi, bencana alam yang bisa menghabiskan nyawa manusia dalam sekejab lebih masuk akal untuk terjadi di negara ini.

Apa yang telah dipersiapkan oleh Pemerintah negara untuk mempersiapkan jika hal tersebut diatas terjadi?

Pergerakan Lempeng Indo_Australia (Engdahl et al, 1998 pada Hall, 2012)

Dengan studi yang dipelajari oleh para ahli dan kerja sama dengan pihak akademisi yang mempunyai hasrat mempelajari gejala yang ditimbulkan oleh alam, maka beberapa pilihan dan badan yang bekerja dalam penanggulangan bencana telah berkontribusi secara aktif untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Namun, tidak bisa dipungkiri, berbagai kepentingan telah menjadikan bantuan-bantuan tersebut dikebiri dan bahkan tidak sampai ke mereka yang membutuhkan. Kita ambil contoh bencana tanah longsor yang terjadi di kota Bogor.

Walikota Bima Arya bahkan sempat mengambil foto dirinya di atas puing reruntuhan rumah warga yang terkena musibah tersebut. Foto tersebut terpampang di akun instagram beliau.

Namun apakah bantuan pasca bencana sampai ke warga? Apakah Pemkot kembali memperhatikan warga yang membutuhkan bantuan? Apakah bantuan yang diberikan sekedar selimut, terpal dan sembako yang hanya cukup untuk beberapa hari?

Polemik mengenai hal ini perlu dikaji lebih dalam dan semoga saja masih ada orang-orang yang memperhatikan hal-hal yang dianggap sepele dan tidak menguntungkan ini. Demi kemanusiaan.

Apakah kamu termasuk orang-orang tersebut?

Terlepas dari polemik di masing-masing daerah, penanggulangan bencana merupakan tugas bersama. Bukan cuma pihak Pemerintah yang perlu menjalankan roda Pemerintahan sehingga bisa melayani dan melindungi Rakyat, and perlu juga Dukungan dari Rakyat sebagai warga and negara yang memberikan kontribusi aktif kepada tanah air, bangsa dan negara. Semoga persaudaraan dan kesatuan negara masih bisa terjadi. NKRI Harga Mati.

Posted in #environment, #lingkungan | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Aku BERBEDA maka Aku SAMA

Di atap kontrakan ditemenin ama gelas teh manis..

Memandang gunung, melihat permainan cahaya

Dan suara itu kembali datang…

<i>Dengan menutup mata, aku melihat lebih banyak</i>

Dengan menyumbat telinga, aku mendengarkan lebih banyak
Dengan menutup mulut Aku berbicara lebih banyak
Dengan menutup hati, aku mati.
Tetapi aku ingin HIDUP! !!

Karena inilah Aku!

Posted in #LiFe | Leave a comment

Hari Ini…Lima Tahun yang Lalu

Tembakan2316Pagi itu aku masih berangkat kerja dari rumah sakit, tempat anakku dirawat.

Sudah sebulan aku tinggal di rumah sakit itu. Matras di bawah tempat tidur sudah menjadi kasur empuk setelah aku selesai bekerja di ibukota. Hiburan malam adalah bercanda dengan almarhum anakku atau dengan istriku. Terkadang sudah tidak sempat untuk bercanda karena ia perlu beristirahat setelah seharian menjaga anak kami dan gantian aku yang menjaganya. Terkadang, hidup mengajarkan pelajaran dengan cara yang keras dan tanpa kompromi.

Ketika 5 tahun lalu anakku kembali ke pangkuanNya, saat itu timbul berbagai perasaan dan pikiran yang kini semakin jelas arah dan tujuannya. Apa makna yang perlu dipelajari dan perlu di perbaiki. Pelajaran utama adalah, jangan pernah menghakimi orang lain. Sekecil apapun itu. Karena apa yang kita dan mereka alami sudah ada yang menyuratkan dan tidak ada garis yang sama persis. Setiap kehidupan mempunya ciri khas yang tidak bisa disamakan satu dengan lainnya.

Sama seperti berkomunikasi, tidak ada orang yang bisa menjadi diri orang lain atau meniru cara orang lain dalam menyampaikan maksud dan tujuan, kata kuncinya adalah kesepahaman untuk tidak sepaham, jika memang ada perbedaan pendapat. Dan itu yang masih saja menjadi permasalahan di negeri ini, tidak bisa menerima perbedaan pendapat. Hal ini pula yang sedang gemar dibahas di media massa atau media-media lainnya. Perbedaan pendapat bisa menjadi pemersatu, seperti pada saat masa perjuangan dan masa sebelum kemerdekaan. Kini semua perbedaan yang terjadi malah menuju perpecahan dan aksi separatis.

Apakah mereka lupa bahwa sudah begitu banyak nyawa yang hilang demi menjaga persatuan dan kesatuan negara? Negeri ini perlu merubah pola pikir yang mudah diatur oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan pribadi, golongan atau kepentingan yang tidak mementingkan kepentingan rakyat kecil yang tidak mampu.

Membahas permasalahan negara saja sudah menyita tenaga dan waktu, apalah masalah rakyat kecil bagi mereka, para pemerintah yang hanya memikirkan keuntungan duniawi. Beruntung jika masih ada mereka yang mau terjun langsung ke jalanan dan bertemu dengan rakyat, mendengarkan dan memberikan solusi bagi mereka yang membutuhkan.

Mudah-mudahan, salah satu penyebab kematian anak balita di dunia adalah pneumonia, seperti yang dialami oleh almarhum anakku, Bhumi, penyakit ini tidak menjadi penyebab kematian bagi anak dan cucu kita kelak, karena pemerintan telah memerhatikan masakah kesehatan dan keselamatan serta kesejahteraan rakyat kecil yang tidak mampu. Karena, jika kembali ke masa 5 tahun yang lalu, proses administrasi dan pembayaran yang dilakukan oleh pihak rumah sakit masih terngiang hingga saat ini, karena begitu menyulitkan dan memberatkan. Jika tidak punya uang, tidak perlu pergi ke rumah sakit. Itu yang dulu ada di pikiran. Mudah-mudahan hal itu hanya menjadi pemikiran kuno yang tidak perlu lagi dialami oleh mereka yang membutuhkan layanan kesehatan di rumah sakit saat ini.

Akhirkata, disamping semua pikiran diatas, Aku tetap berpikiran bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan, sama seperti kamu, Bhumi, anakku. Berbahagialah disana denganNya.

Amin.

 

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan, #laut, #LiFe, #monolog | Leave a comment

Selain di hati, menghakimi begitu mudah… Karena berpikir itu sulit!!! 

Love-Lost-lost-30441382-400-300

Memang sudah bukan jaman Paman Doblang, yang ketika ia berbicara lalu semua terdiam dan mendengar.

Saat ini adalah jaman ketika kita berbicara, orang lain juga ikut berbicara.

Frekuensi suara berinterferensi dan saling meniadakan, bukannya saling menguatkan.

Ketika kata-kata menjadi semakin murah dan tidak ada artinya. apalagi makna dan nilai yang terkandung dalam setiap kata, semua menjadi semu.
“darah dari benci, darah dari sesuatu yang tidak pasti” menjadi kenyataan, sesama ‘saudara’ berperang demi sebuah pemahaman yang manusiawi, darah terbuang sia-sia dan waktu berlalu takkan terulang kembali. semoga bukan menjadi sebuah kesia-siaan adalah jargon basi yang tidak dipahami maknanya oleh mereka yang mengucapkannya.
jargon lain yaitu “pengorbanan yang dilakukan takkan berhenti hingga tetes darah terakhir” apakah hanya sebuah jargon yang hanya bisa di rasakan di hati tanpa bisa dijadikan sebuah realisasi dan dapat dirasakan oleh bersama? Apakah hanya diucapkan demi mendapatkan publisitas dan ketenaran?

Kamu melihat bahwa manusia berubah dan mereka yang tadinya berjalan bersama, satu per satu menghilang dan mengurungkan niat mereka untuk tetap berjalan bersama karena alasan biasa, yaitu  semua butuh makan. kebutuhan semakin banyak dan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas pun menjadi polemik tersendiri.

Tapi, ah, sudahlah.

Cuma itu yang bisa menjadi titik balik.

Manusia mau berubah atau pun tidak, tidak menjadi masalah.

Bagi mereka yang percaya, nanti pun ada masanya untuk pengadilan, tentang benar dan salah, tentang apa yang di perbuat, baik itu terlihat ataupun tidak. Diketahui atau pun tidak diketahui oleh sesama manusia.

Karena manusia bukan tempatnya untuk menghakimi. Cuma bisa berpikir dan beropini.

Tidak kurang, tidak lebih.


Sama seperti kisah dibawah ini, ketika kamu sedang pulang dari pasar dini hari itu, ketika tetiba hasrat untuk buang air kecil tidak tertahan lagi. Kebetulan ada pagar terbuka dan kamu melihat ada pojokan gelap yang sepertinya bisa dijadikan tempat kamu untuk buang air kecil. Tak lama setelah kamu selesai, kamu pun bersiap untuk kembali berjalan namun sayang kamu tidak sengaja membentur kayu sehingga terjatuh dan menimbulkan suara. Segera setelah itu muncul seorang pemuda yang melihat kamu, namun bukannya menghampiri, ia malah bergegas menuju ke gerbang dan menutup pintu gerbang lalu segera masuk kembali ke dalam rumah dan menyalakan lampu depan rumah yang memang gelap.

dia bertanya “ngapain disitu?”

“numpang kencing”.

Lalu ia bertanya, “masa buang air di rumah orang?

“ya namanya juga kebelet” jawabmu polos.

Ia pun bergegas kembali ke dalam rumah tanpa mengindahkan jawabanmu.

Kamu pun terheran dan berjalan menuju gerbang dan membuka gerbang tersebut, lalu berjalan menuju arah jalan.

Ketika kamu sudah di trotoar ia pun kembali teriak dan memanggil sambil membawa sesuatu di tangan kanannya.

Kamu pun membalik dan menatapnya.

Seperti gergaji yang ia pegang itu.

Entah buat apa.

Dialog berikutnya menjadi samar karena ia menuduh kamu maling dan mengancam akan teriak maling.

Menahan ketawa kamu pun menjawab

“Bagaimana kalau kita ketemu Pak RT untuk menyelesaikan salah paham ini?”

“ayo” jawab pemuda tersebut.

Beberapa langkah dari pintu gerbang rumah itu, ia pun berhenti dan balik arah ke rumah.

Kamu pun bertanya “lho, kenapa? tidak jadi ketemu Pak RT?”.

Ia pun menjawab “tidak” secara samar.

Heran kembali ada di pikiranmu, maunya apa pemuda itu? Awalnya menuduh lalu ketika hendak diselesaikan  malah mengurungkan niatnya. Kamu hanya bisa menatap ia yang kembali berjalan ke arah rumah.

Kamu yang saat ini berdiri di pinggir jalan hanya bisa menerima bahwa pemuda tersebut hanya menggertak. Ia tidak berani menerima kebenaran. Bahwa kamu berada disana murni untuk membuang air kecil yang sudah tidak tertahankan.

Kadang kebenaran menjadi semu ketika pikiran manusia menduga hal-hal yang belum tentu kebenarannya.

Mereka berasumsi.


Posted in #LiFe | Leave a comment

Kisah Ayah dan Anak 

[edit] Perjalanan adalah perjalanan. Jalani saja. Disaat lelah, berhenti, duduk dan nikmati.
Nikmati saat kamu si bawah. Melihat mereka yang bertarung untuk semakin tinggi. Melihat mereka yang juga sudah kelelahan namun tidak tahu kapan waktunya berhenti. Mereka yang percaya bahwa cuma kematian yang bisa menghentikan mereka untuk berjalan.

#streetphotography #streetphotographer #streetphoto #urban #streetlife #exploretocreate #urbanandstreet #streetmobs #streetshared #aksararaska #sketsateks #LiFe #untukdiheningkan #monochrome #monochromeworld #bwphotography #blackandwhiteworld

View on Path

Posted in #LiFe | Leave a comment