[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | Leave a comment
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Makan untuk hidup!!

Bau nasi basi yang ada di piringmu membuat kamu ingin muntah. Namun kamu tahan. Seharian ini kamu belum makan. Dengan sigap dan lahap kamu menghabiskan isi piring itu dan berhrap perutmu mau bekerjasama. Air putih kamu telan bersamaan dengan nasi-nasi itu. Beberapa tersangkut di lubang gigi yang semakin membesar setiap hari. Kembali perasaan itu datang, dengan kepalan tangan kamu tutup mulut yang hampir saja menyemburkan lagi nasi yang sedang kamu kunyah itu. Kamu belum makam, kembali kamu ingatkan dirimu. Sudah lahap saja, kamu makan untuk hidup. Tidak usah manja dan pilih-pilih makanan. Kamu sudah tidak punya kesempatan untuk memilih lagi. Kamu sudah pernah merasakan memilih makanan yang hendak kamu makan, sekarang sudah bukan saatnya. Sekarang nikmati saja apa yang tersedia.

Kembali kamu teguk air putih, untuk mendoring nasi itu masuk ke dalam kerongkongan. Lagipula, kamu kembali mengingatkan diri, pernah kamu berada di kondisi yang lebih parah, sama sekali tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh, selama 7 hari. Air yang menolongmu kala itu. Seseruput, sekedar membasahi tenggorokan. Lalu disaat ketika kamu makan daun dan cacing, serta buah-buahan yang bisa kamu temukan di hutan. Setidaknya, kondisi sekarang kamu masih bisa bertemu nasi, tanpa lauk, basi dan ini adalah makanan pertama yang masuk ke perutmu hari ini. Syukuri dan nikmati. Itu sudah. Tidak usah kamu pikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu, yang masih memiliki kesempatan untuk memilih makanan yang membuat mereka berselera, kadang mereka makan hanya demi prestise, di tempat mewah dengan porsi yang tidak mengenyangkan, dan menyatakan status sosial agar dapat dikenal dan dinyatakan eksis. Biarkan mereka menikmati masa-masa itu, doa yang terbaik untuk mereka.

Satu suap terakhir, kamu melihat bulir nasi yang terlihat mengkilap basah dan menggoda untuk dibuang ke dalam mulutmu. Warna putih yang suci dan tak bersalah, wajar jika orang tua dulu bilang jangan sekali-kali membuang nasi nanti mereka menangis. Ah, mitos yang penuh makna, kini kamu mengerti mengapa mereka mengajarkan itu. Karena makna takkan pernah bisa langsung dimengerti sesaat setelah dikatakan, melainkan butuh proses dan repetisi. Begitu pula dengan nasi, setelah berulang kali kamu makan, nasi basi memang selalu mengingatkan tentang perjuangan. Berapa jauh langkah yang telah di lalui untuk sampai ke saat ini, berapa ribu beras yang ditanak untuk memuaskan dahaga perut lapar yang setiap hari kamu rasakan. Hanya bisa mengucapkan syukur dari hati terdalam, bahwa kamu masih di beri waktu. Satu suap terakhir.

Posted in #laut, #LiFe, #makanan, #monolog, #pic, #sosial, #story, #survival, #tips, #words | Leave a comment

selow keun heula lur

DSC06805selow keun heula lur

pada berendem aja dulu sana ya, biar adem ^^

Posted in #gunung, #hiking, #ingat, #LiFe, #monolog, #outdoor, #safetyprocedure, #survival, #tips, #words, Caldera | Leave a comment

[laut] Senyum pagi kepada sore

wpid-wp-1444029291882.jpg

 

di lautan luas karakter manusia, terdapat pola

jika diperhatikan seperti buih ketidakteraturan

dan perlahan membentuk lautan keteraturan

Pagi hari, angin mendesir sedikit kencang, membuat kulit seperti enggan untuk menampakkan diri dan belindung di balik kain yang kamu kenakan. Langkah kaki yang mantap, tergesa karena kamu tidak mau ketinggalan bis umum yang akan mengantarkan kamu ke kota. Para pembersih jalan dengan semangat menyapu dan menyingkirkan dedauan kering yang berserakan. Mereka menunduk penuh konsentrasi menatap lawan mereka, sampah dan dedaunan kering yang menunggu nasib untuk di masukkan ke dalam karung dan kelak di bawa ke tempat pembuangan akhir untuk di proses. 

Senyummu pun tak tertahankan melihat situasi itu.

Bahagia itu memang sederhana, ketika kamu masih di beri kesempatan untuk melihat mereka yang bekerja di jalan dan dengan semangat melakukan hal yang tidak semua orang mau melakukannya.

Mereka tidak memikirkan mengenai kenyamanan kerja atau keinginan hati yang kadang berteriak dan menginginkan kehidupan yang lebih layak dari yang mereka rasakan kini.

Mereka pun tidak menghiraukan cuaca ketika mereka sedang berada di jalan. Hujan deras dan terik mentari sudah menjadi kawan bagi mereka sehari-hari.

Tidak ada rasa malas untuk bergerak, tidak ada rasa takut untuk di pandang sebelah mata oleh oknum-oknum masyarakat tingkat atas yang menyepelekan pekerjaan mereka.

Mereka dengan giat berusaha melakukan yang bisa mereka lakukan dengan sepenuh hati.

Dan kamu pun merasakan hal tersebut ketika mendapatkan senyum ramah ketika kamu ucapkan kata “permisi” kepada salah seorang dari mereka.Mereka pun secara bersamaan membalas ucapanmu tersebut.

Sungguh, etika seperti itu tidak diajarkan secara cuma-cuma. Butuh waktu dan proses yang panjang untuk dapat memberikan empati kepada sesama manusia sehingga terjadi keharmonisan seperti yang baru saja kamu rasakan.

Sehingga kamu berpikir, selepas dari tempat kamu melewati mereka yang sedang bekerja tersebut, di pagi hari yang belum juga terang, bahwa mendidik adalah suatu proses menerus dan perlu tanggungjawab untuk melakukannya. Dan jika pendidikan yang diberikan layak, maka terdidik akan dapat bertahan hidup, mampu melewati segala cobaan dan aral melintang yang mungkin akan datang menghadang serta mampu mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik dan semakin baik.

Senyum di pagi hari itu begitu berkesan, hingga melewati hari dan menanti pergantian malam menuju pagi.

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan, #laut, #LiFe, #sosial | Leave a comment
<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/646b57bd-99ea-406c-9beb-0bd86b18dcf6/original.jpg" />
#jongkok!!  Jika kamu bahagia dengan terus menunduk!! 

Jika kamu masih tetap menjadi korban!

Jika kaki berhenti melangkah, jika hati tak lagi mencinta…
View on Path

Posted in #LiFe | Leave a comment

[laut]Ketika berbeda itu indah

Ketika berbeda itu indah, maka keindahan adalah sesuatu hal yang sangat mudah di dapatkan. -aksararaska, 2016-

IMG_20161106_175238011.jpg

Ketika semua orang berpendapat tentang kekhawatiran

yang engkau rasakan

hanya sekedar ketakutan berlebihan

Ketika semua pemikiran 

yang berada di dalam 

ingin keluar secara bersamaan

Ketika secara bersamaan

Semua terasa tidak selaras

dengan hati dan air mata yang tersimpan

Setiap kata yang terucap memerlukan sebuah pertanggungjawaban yang pastinya akan di ingat oleh semua orang yang mendengarkan dan menyimak makna yang ada dibalik setiap kata tersebut. Jangan menjadi orang yang hanya bisa berkata namun tidak bisa bertanggungjawab dengan perkataannya.

 

 

Posted in #aksararaska, #laut, #LiFe | Leave a comment

Kata-kata adalah senjata penghancur kehidupan

Kata-kata adalah senjata yang paling berbahaya. Di ucapkan saja sudah berbahaya apalagi jika tidak. Dalam diam, kata akan menggerogoti hati dan memanipulasi kenyataan.

Setiap individu punya intepretasi masing-masing terhadap suatu perkataan. Tak ada yang benar sebelum melihat sendiri kenyataan dari kata-kata tersebut.

Akan terlihat siapa yang memang benar-benar peduli dan perhatian dengan lingkungan sekitar atau teman-temannya, karena kata-kata adalah cara berkomunikasi dan perbuatan pun alat komunikasi yang penting.

#bedahbuku #buku #ManuskripYangDitemukanDiAccra #reshare #optimized #aksararaska – with aksara

View on Path

Posted in #LiFe | Leave a comment

..hari ini sungguh menyenangkan..

IMG_20160412_162710093.jpg

Kamu tidak bisa membiarkannya pergi, terlalu banyak yang ia ketahui tentang kamu. Tidak ada jaminan ia akan menyimpan informasi mengenaimu selamanya. Apalagi setelah kejadian malam ini. Kamu tidak boleh membiarkannya pergi.

“Aku antar pulang ya” dengan nada selembut mungkin kamu mengatakannya.

“Ga usah” katanya resah, mencoba menghindarimu. Bahkan matanya tertunduk waktu ia mengatakannya.

“Aku antar pulang” katamu mantap seraya mengambil kunci motor dari tangannya.

Ia sepertinya hanya bisa menatapmu karena kamu sudah berjalan menuju pintu tanpa melihat ekspresinya.

***

Kamu melaju semakin cepat mendekati jembatan itu. Jembatan yang melintasi jalan tol dan lalu kalian tinggal belok kanan untuk sampai ke rumahnya. Sebentar lagi pikirmu. Tangan kanan semakin menegang dan semakin kencang menekan sehingga motor matic yang tidak seberapa kencang itu melaju. Kamu sadar bahwa ia menegang di belakangmu. Tapi ia tidak berpegangan kepadamu. Bagus. Kamu bisa menjalankan rencanamu dengan sempurna kalau begini. Semakin mendekat dengan pinggir jembatan motor yahg kalian tumpangi sudah mendekati batas kecepatannya. Kamu melihat angka 90 di speedometer. Tapi matamu mungkin saja bisa salah. Lagi pula motor matic memang tidak didesai untuk kecepatan tinggi. Ini sudah cukup menurutmu. Dengan perhitungan singkat kamu memperkirakan trajektori motor ketika menghantam trotoar dan pembatas jembatan yang terbuat dari besi itu akan membuat tubuh kalian terlempar 2,5 meter ke atas. Tubuhmu masih bisa menangkap pagar besi dan jika cengkramanmu kuat kamu akan bertahan. Tubuhnya akan terlempar setengah meter lebih tinggi, mengingat berat tubuhnya dan kecepatan motor. Seharusnya ia akan terlempar langsung menuju jalan tol di bawah sana. Dan perhitunganmu meleset. Sayang sekali.

***

Tubuhmu cuma terlempar setinggi 2 m. Itu pun setelah kamu menekan rem tangan di saat terakhir. Entah kenapa kamu melakukan itu. Namun hal itu membuat tubuhnya melayang melebihi tinggi pagar pembatas. Bahkan tidak secuil benang dari bajunya yang terkena pagar pembatas itu. Ia langsung melayang menuju jalan tol di bawah sana. Tubuhmu tertahan pagar pembatas dan terjatuh ke trotoar. Memar di bahu tidak kamu rasakan. Kamu segera berusaha bangkit dan melihat kebawah. Ke jalanan itu. Mencari tubuhnya. Namun yang kamu lihat cuma truk yang terhenti dan orang-orang yang mulai berteriak-teriak tidak jelas. Ada sesuatu di bawah truk tersebut yang membuat orang-orang tersebut menjadi bertingkah seperti itu. Sarung tangan yang kamu gunakan membuat sidik jarimu tidak terekan pada stang motor. Alibimu kuat. Kamu melihat sekitar dan tidak ada seorang pun yang berada di atas jembatan itu. Dan senyum pun tersungging ketika kamu berlari kecil meninggalkan trotoar itu menuju arah yang berlawanan :)

Posted in #aksararaska, #badai, #catatanperjalanan, #LiFe, #words | Leave a comment