[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | 2 Comments

200 plus plus

Hari minggu, Hari pernikahan di setiap hotel yang ada di lingkungan tempat tinggalku. Hari tanpa masker karena sepertinya sayang sekali menutupi make up dan keinganan untuk terlihat cantik dan tampan didepan umum, malah membuat sebagian orang berpikir mereka terlihat bodoh tanpa masker disaat Pandemi masih mengintai.

Tangkapan layar salah satu media lokal mengenai pejabat pemerintahan yang abai melakukan protokol kesehatan dan belakangan memberikan alasan-alasan tanpa mendapatkan Hukuman atas perbuatannya.

Salah satu bukti bahwa otak ada di setiap kepala namun akal dan pikiran belum tentu dipergunakan.

Hari minggu, Hari ke 209 setelah pemerintah mengakui bahwa Pandemi ini sudah menyebar dengan cepat di masyarakat. Setelah ucapan-ucapan tak berdasar dari beberapa pejabat yang tak perlu disebutkan karena nanti melanggar UU ITE.

Di sisi lain, masih ada yang tidak mempercayai keberadaan virus covid19 dan perihal kematian yang semakin bertambah tiap hari. Begitu pun pelanggaran protokol kesehatan seperti penggunaan masker dan menjaga jarak aman yang semakin diabaikan.

Tak perlu bahas soal cuci tangan, sebagian masyarakat memang terlalu jorok dan abai dalam melakukan hal sederhana seperti mencuci tangan dan membuang sampah pada tempatnya.

Sampai kapan bangsa ini terpuruk dalam keadaan bodoh seperti ini?
Bagi yang merasa, Tak perlu melindungi diri dan memasang benteng bahwa tindakan abai terhadap protokol kesehatan itu tidak termasuk tindakan bodoh. Apalagi kalau bukan itu? Selain membahayakan diri sendiri, pelaku juga membahayakan orang lain.

Pernah terpikir kesana?

Posted in #LiFe | Tagged , , , , , | Leave a comment

Protokol

Lagi marak protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Kebetulan tadi bertemu dengan Germas Kota Bogor di lingkar kebun Raya yang memang ramai di minggu pagi ini. Mereka membawa spanduk bertuliskan *gunakan masker sesuai protokol kesehatan* namun terlihat beberapa orang dari mereka tidak menggunakan masker dengan layak, hidung mereka masih terbuka dan malah menutupi dagu.

Wilayah Beresiko Terpapar Covid-19

Berpikir positif, mungkin mereka bernapas menggunakan dagu.

Posted in #LiFe | Leave a comment

Kan Kerja Nyata, katanya..kok masih pura-pura sih klo ada kunjungan ‘pejabat’. Pejabat kan manusia, bukan dewa

16 Agustus 2020, kunjungan Walikota Bogor ke Kampung sebelah, Kebon Manggis, namun persiapan kedatangan beliau sudah terasa di sejak 3 hari sebelumnya. Jalanan di cat, dibersihkan, dijaga agar tidak terlihat sampah berserakan. Penulis cuma berharap setiap hari ada kunjungan agar lingkungan bersih selalu. Sebab jika hari biasa, buang sampah sembarang sudah biasa. Abai saja gitu buang sampah dimana aja.

Beberapa menit sebelum walikota datang, seorang bapak, yang sepertinya ajudan atau semacam seksi sibuk, meminta kami menyingkirkan jemuran, entah apa hubungannya dengan kedatangan Walikota yang ‘hanya lewat’ tempat kami dan menuju Kebon Manggis, lokasi kegiatan perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Bukan masalah kan jika walikota melihat warganya menjemur di pinggir jalan karena tidak punya tempat lain untuk menjemurnya. Dan tentu tidak mengapa jika pejabat melihat bahwa warganya masih abai dengan kebersihan lingkungan dan cuma “terlihat Bersih” jika ada kunjungan kerja. Hari lain? Berantakan.

Akhirnya pemilik jemuran memindahkan jemurannya, namun tetangga yang baru pindah, seorang TNI dan membuka usaha kamar kost Azaya, yang berasal dari Bandung, mengomentari dengan bahasa tubuh “orang jenggotan” tidak paham soal protokol dan cara “menghormati” pejabat. Apa hubungannya? Tindakan yang subversif dan represif dari seorang TNI yang notabene di “gaji” oleh rakyat. Sungguh memalukan.

Akhirnya walikota Bogor Bima Arya lewat, tidak sampai satu menit, tidak lihat kiri kanan, tanpa menyapa warga, tidak memperhatikan jemuran atau sampah dan seakan tidak peduli dengan keberadaan rakyatnya, namun tatapan protokoler yang tadi meminta jemuran dipindahkan begitu dalam menatap kami. Dan kami pun membalas dengan senyum ikhlas karena semua urusan dunia ini akan diperhitungkan di Hari Akhir. Mungkin mereka lupa.

Posted in #LiFe | Leave a comment

Staff Menteri Menjadi Korban Pencopetan di Stasiun Bogor

Himbauan Aparat kepada Korban, Bukan Kepada Pelaku

Salah seorang staff senior Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sore kemarin menjadi korban pencopetan dengan kronologi seperti ini:

Korban menggunakan headset dan handphone di saku celana bagian belakang. Membawa tas backpack dan goodybag berwarna merah. Korban baru saja turun kereta dari Tanah Abang dan sedang berjalan menaiki tangga jembatan penyebrangan ketika beberapa orang menyergapnya dan mengambil handphone tersebut darinya. Pelaku yang mengambil mengoper HP tersebut ke rekannya yang menggunakan jaket kulit. Diperkirakan pencopet berkelompok dengan jumlah 4-5 orang, salah satunya seorang perempuan. Korban berteriak meminta pertolongan namun tidak ada yang membantu. Korban menjelaskan bahwa dia akan membayar agar HP tersebut dikembalikan, karena data serta informasi mengenai pekerjaan ada di HP tersebut. Setelah korban teriak, pencopet memberikan penawaran akan mengembalikan HP tersebut namun korban harus diam dan tidak boleh melaporkannya ke pihak berwajib. Setelah dikembalikan, korban menghubungi penulis, karena sore itu kami memang ada janji pertemuan. Korban menceritakan kronologi kejadian di rumah makan Trio Paledang, sekian ratus meter dari TKP jembatan penyebrangan stasiun Bogor.

Korban tidak melaporkan kepada Polisi karena HPnya sudah dikembalikan. Korban pun tidak mengalami luka terbuka namun mengalami trauma setelah kejadian. Penulis segera mencari saksi mata dan bertanya kepada pedagang asongan yang berjualan di jembatan penyebrangan tersebut. Tidak ada yang mengaku melihat pelaku dan bahkan mereka tidak mengaku telah lama berada di jembatan itu. Wajah mereka ketakutan ketika ditanya mengenai kejadian tersebut. Entah apakah karena mereka mengenal para pelaku atau mereka memang jujur tidak mengetahui tentang komplotan pencopet di jembatan itu. Namun, akhirnya korban mengidentifikasi salah satu pelkku, seorang perempuan, menggunakan sweater coklat muda, topi hitam, kacamata, badan gemuk berisi, tinggi sekitar 165cm, rambut lurus dan ia sedang berdiri di samping pedangang headset dekat tangga dan seakan sedang mengawasi keadaan. Korban yakin bahwa perempuan itu termasuk komplotan para pelaku pencopetan. Ketika kami hendak membawanya ke kantor polisi, ia melawan. Para pedagang disekitar jembatan pun seakan hendak melindunginya. Karena kami cuma berdua, kalah jumlah, maka kami berpikir untuk menyelamatkan diri dari tempat itu.

Perasaan tidak aman dan nyaman ketika kami menjauhi tempat itu. Yang ada dalam pikiran pada saat itu cuma segelas minuman hangat yang bisa menenangkan perasaan kami. Aparat sama sekali tidak terlihat disekitar situ. Untuk melapor ke kantor polisi pun tidak kami lakukan karena pasti akan dimentahkan, sebab barang buktinya sudah dikembalikan oleh pelaku. Rasa penasaran untuk mencari pelaku cuma berdua memang konyol dan kami hampir menjadi korban pengeroyokan. Kemungkinan mereka semua berkomplot dan dibiarkan oleh aparat pun sempat terbersit dalam pikiran. Namun segera lenyap karena kami memikirkan menuju tempat aman.

Bahkan, hingga kami lupa mengambil foto dari pelaku perempuan tersebut. Harapan kami setelah mempublikasikan tulisan ini agar masyarakat sekitar dan pengguna KRL @commuterline PT. KAI bisa semakin waspada jika berjalan di jembatan penyebrangan tersebut. Ingin menuntut agar aparat dan PT. KAI menjamin keselamatan pengguna KRL dan pejalan kaki didaerah tersebut seakan terlalu berkhayal sebab PT. KAI pun tidak bisa memberikan jaminan protokol kesehatan Covid-19 didalam gerbong keretanya apalagi keselamatan pengguna diluar stasiun. Aparat polisi pun cuma bisa menghimbau kepada para korban dan tidak menindak para pelaku dan mengamankannya.

Dan yang bisa dilakukan oleh staff menteri tadi cuma berbagi kisah di status media sosial dan mendapatkan simpati namun belum tentu mengobati trauma yang dihadapi.

Semoga hal tersebut tidak terjadi lagi.

Semoga aparat bisa mengamankan rakyatnya dan semoga para pelaku diberikan kelebihan serta kesehatan agar bisa bekerja yang mapan tanpa perlu membahayakan nyawa orang lain

Posted in #catatanperjalanan, #monolog, #sosial, Info | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Staff Menteri Menjadi Korban Pencopetan di Stasiun Bogor

Himbauan Aparat kepada Korban, Bukan Kepada Pelaku

Salah seorang staff senior Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sore kemarin menjadi korban pencopetan dengan kronologi seperti ini:

Korban menggunakan headset dan handphone di saku celana bagian belakang. Membawa tas backpack dan goodybag berwarna merah. Korban baru saja turun kereta dari Tanah Abang dan sedang berjalan menaiki tangga jembatan penyebrangan ketika beberapa orang menyergapnya dan mengambil handphone tersebut darinya. Pelaku yang mengambil mengoper HP tersebut ke rekannya yang menggunakan jaket kulit. Diperkirakan pencopet berkelompok dengan jumlah 4-5 orang, salah satunya seorang perempuan. Korban berteriak meminta pertolongan namun tidak ada yang membantu. Korban menjelaskan bahwa dia akan membayar agar HP tersebut dikembalikan, karena data serta informasi mengenai pekerjaan ada di HP tersebut. Setelah korban teriak, pencopet memberikan penawaran akan mengembalikan HP tersebut namun korban harus diam dan tidak boleh melaporkannya ke pihak berwajib. Setelah dikembalikan, korban menghubungi penulis, karena sore itu kami memang ada janji pertemuan. Korban menceritakan kronologi kejadian di rumah makan Trio Paledang, sekian ratus meter dari TKP jembatan penyebrangan stasiun Bogor.

Korban tidak melaporkan kepada Polisi karena HPnya sudah dikembalikan. Korban pun tidak mengalami luka terbuka namun mengalami trauma setelah kejadian. Penulis segera mencari saksi mata dan bertanya kepada pedagang asongan yang berjualan di jembatan penyebrangan tersebut. Tidak ada yang mengaku melihat pelaku dan bahkan mereka tidak mengaku telah lama berada di jembatan itu. Wajah mereka ketakutan ketika ditanya mengenai kejadian tersebut. Entah apakah karena mereka mengenal para pelaku atau mereka memang jujur tidak mengetahui tentang komplotan pencopet di jembatan itu. Namun, akhirnya korban mengidentifikasi salah satu pelkku, seorang perempuan, menggunakan sweater coklat muda, topi hitam, kacamata, badan gemuk berisi, tinggi sekitar 165cm, rambut lurus dan ia sedang berdiri di samping pedangang headset dekat tangga dan seakan sedang mengawasi keadaan. Korban yakin bahwa perempuan itu termasuk komplotan para pelaku pencopetan. Ketika kami hendak membawanya ke kantor polisi, ia melawan. Para pedagang disekitar jembatan pun seakan hendak melindunginya. Karena kami cuma berdua, kalah jumlah, maka kami berpikir untuk menyelamatkan diri dari tempat itu.

Perasaan tidak aman dan nyaman ketika kami menjauhi tempat itu. Yang ada dalam pikiran pada saat itu cuma segelas minuman hangat yang bisa menenangkan perasaan kami. Aparat sama sekali tidak terlihat disekitar situ. Untuk melapor ke kantor polisi pun tidak kami lakukan karena pasti akan dimentahkan, sebab barang buktinya sudah dikembalikan oleh pelaku. Rasa penasaran untuk mencari pelaku cuma berdua memang konyol dan kami hampir menjadi korban pengeroyokan. Kemungkinan mereka semua berkomplot dan dibiarkan oleh aparat pun sempat terbersit dalam pikiran. Namun segera lenyap karena kami memikirkan menuju tempat aman.

Bahkan, hingga kami lupa mengambil foto dari pelaku perempuan tersebut. Harapan kami setelah mempublikasikan tulisan ini agar masyarakat sekitar dan pengguna KRL @commuterline PT. KAI bisa semakin waspada jika berjalan di jembatan penyebrangan tersebut. Ingin menuntut agar aparat dan PT. KAI menjamin keselamatan pengguna KRL dan pejalan kaki didaerah tersebut seakan terlalu berkhayal sebab PT. KAI pun tidak bisa memberikan jaminan protokol kesehatan Covid-19 didalam gerbong keretanya apalagi keselamatan pengguna diluar stasiun. Aparat polisi pun cuma bisa menghimbau kepada para korban dan tidak menindak para pelaku dan mengamankannya.

Dan yang bisa dilakukan oleh staff menteri tadi cuma berbagi kisah di status media sosial dan mendapatkan simpati namun belum tentu mengobati trauma yang dihadapi.

Semoga hal tersebut tidak terjadi lagi.

Semoga aparat bisa mengamankan rakyatnya dan semoga para pelaku diberikan kelebihan serta kesehatan agar bisa bekerja yang mapan tanpa perlu membahayakan nyawa orang lain

Posted in #catatanperjalanan, #monolog, #sosial, Info | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

WYSIWYG: Mungkin karena situs lembaga negara menggunakan sekuritas abal-abal sehingga mudah diretas?

Mungkin juga ‘sengaja’ akun ‘peretas’ dibuat agar aparat ‘terlihat bekerja’.

Apapun alasannya, memang seharusnya keamanan data menjadi tanggungjawab negara. Apapun bentuknya, informasi pribadi merupakan hal krusial yang tidak boleh disebarluaskan. Namun, pemahaman masing-masing orang terhadap keamanan data ini pun tidak sama. Tingkat pendidikan sepertinya menjadi salah satu faktor utama mengenai sumber pemahaman mengenai pentingnya kerahasiaan data pribadi tersebut.

Di sisi lain, aparat pemerintahan pun perlu mempunyai pengetahuan dasar mengenai keamanan data dan sekuritas jaringan data yang digunakan. Tidak bisa serta merta memberikan lelang proyek bagi para vendor dan memilih ‘angka’ yang paling murah tanpa memerhatikan kredibilitas pemberi jasa tersebut.

Benefit of the doubt

Memang tidak semua vendor perlu dipertanyakan perihal kredibilitas serta kapabilitas dalam memberikan pelayanan kepada lembaga aparatur negara, namun melihat dari berita, kasus penyebaran informasi siber oleh oknum seakan tidak bisa dicegah atau seakan dianggap angin lalu. Pun terlihat dari situs lembaga negara yang seakan cuma memiliki bandwidth ‘sekian’ Mpbs karena begitu lama waktu yang diperlukan untuk mengaksesnya, terutama jika traffic sedang tinggi. Misal situs PPDB (https://ppdb.disdik.jabarprov.go.id/) tadi siang, 8 Juli jam 14.00, ketika pengumuman pendaftaran penerimaan sekolah diumumkan menjadi sangaaat lambat dan bahkan tidak dapat diakses, Namun, setidaknya laman tersebut memberikan ‘kesan’ profesionalitas hanya dari alamat yang digunakan. Berbeda dengan laman https://kotabogor.siap-ppdb.com/#/ yang memberikan kesan “komersil’ karena menggunakan [dot] com sebagai Top Level Domain. Kita anggap saja, pembuat laman lembaga negara tersebut amatir dan belum mempunyai pengetahuan yang cukup dalam memberikan pelayanan secara terstruktur dan sesuai dengan fungsinya. Ditambah dengan fakta bahwa tidak ada aturan yang siber yang jelas untuk mewadahi penggunaan TLD tersebut yang diperjelas dalam Undang-Undang Negara.

WYSIWYG

Kembali pada kenyataan bahwa kini netizen dan masyarakat umum lainnya belum memahami ‘aturan main’ dunia siber yang begitu cepat dan tidak semua mampu mengikuti perkembangannya, maka ketika terjadi serangan terhadap data diri dan informasi pribadi menjadi sebuah berita yang akan terus terjadi dan muncul timbul tenggelam seakan iklan yang akan cepat terlupakan. Aparat pun seakan ‘enggan’ menyentuh ranah kejahatan siber ini, mungkin karena bukan ‘lahan basah’.

ah Entahlah, satu hal yang pasti, what you see is what you got

Posted in #LiFe | Leave a comment

Seandainya Kamu Bisa Melihat

If you could only see di album Lemon Parade karya Tonic, sebuah band dari Amerika, mempunyai lirik yang menjadikannya “rock radio’s most played song of 1997.” Lagu ini ditulis oleh lead vocal, Emerson Hart karena hubungannya dengan wanita yang lebih tua tidak disetujui oleh keluarganya. Ia mengatakan ‘if you could only see the way she loves me, maybe you would understand.‘ kepada ibunya ketika mereka terakhir berbicara bersama dan terbersitlah lagu ini.

If you could only see the way she loves me
Then maybe you would understand
Why I feel this way about our love
And what I must do
If you could only see how blue her eyes can be when she says
When she says she loves me

Well you got your reasons
And you got your lies
And you got your manipulations
They cut me down to size

Sayin’ you love but you don’t
You give your love but you won’t

If you could only see the way she loves me
Then maybe you would understand
Why I feel this way about our love
And what I must do
If you could only see how blue her eyes can be when she says
When she says she loves me

Seems the road less traveled
Show’s happiness unraveled
And you got to take a little dirt
To keep what you love
That’s what you gotta do

Sayin’ you love but you don’t
You…

Terkadang memang sulit bagi orang lain untuk melihat apa yang ada didalam kepalamu

Posted in #LiFe | Leave a comment

Bumi Lebih Sunyi, Mari Mulai Mendengarkan

Suatu senja di Bumi, 2020

Wabah itu merupakan azab bagi sebagian orang dan menjadi rahmat bagi sebagian lainnya. Bagi mereka yang mengejar dunia tentu akan merasa bahwa semua yang terjadi saat ini adalah hal yang berat dan ingin segera usai. ingin kembali “normal”, ingin kembali bisa “kondisi sebelumnya”. Bagi sebagian lainnya, kondisi ini merupakan peringatan yang sudah jelas diberitakan sejak lama, sejak jaman Nabi dan Rasul:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus : 12)

Tentunya hal itu cuma bagi mereka yang beriman, bagi yang tidak, tentunya peringatan seperti itu tidak akan berpengaruh. Tidak mengapa, karena bukan itu tujuan tulisan ini. Tulisan ini mencoba mengajak pembaca melihat sisi lain yang mungkin terlewatkan karena terlalu sibuk melihat satu sudut pandang yang sama dengan semua orang.

Pemerintah itu Pelayan Masyarakat.. Digaji oleh Pajak Masyarakat.

Sebelum masuk pada bahasan inti mengenai kondisi karantina, wabah dan rakyat yang kelaparan, sebaiknya kita sepakati terlebih dahulu bahwa “Tidak akan ada pemerintahan jika tidak ada Rakyat yang di pimpin”. Dan fakta bahwa masih banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menggunakan statusnya di pemerintahan dan merasa perlu mendapatkan “perhatian khusus” di masyarakat umum. Hal ini sama saja dengan melestarikan “Budaya ORBA” yang seharusnya sudah “mati”. Dan perlu kita sepakati bahwa masyarakat bersama pemerintah perlu meninjau UU no 24 tahun 2007 terutama pada poin 6 dan 16 sebagai berikut:

6. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan
yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan
dan/atau mengurangi ancaman bencana
.

16. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko
bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana
maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.

Sebagai masyarakat umum, tentu akan sangat mudah untuk berkomentar dan hanya melihat dari satu sisi saja, sedangkan tugas pemerintahan perlu meninjau berbagai aspek sebelum bisa mengambil keputusan dalam menanggulangi kondisi serta situasi bencana yang memerlukan keputusan cepat dan tepat.

Oleh karena itu, Penulis mengajak para pembaca semua untuk membantu Pemerintah dalam membuat protokol yang berkaitan dengan kondisi saat ini agar menjadi panduan dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, tanpa pengecualian dan menyeluruh serta jauh dari tindakan diskriminasi sosial dan tindakan asusila seperti korupsi, kolusi dan nepotisme
Sebab Pemerintah merupakan "penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum" bagi masyarakat umum. Gagal memberikan ini, maka wajar jika masyarakat bertanya dan mencari tahu mengenai hak mereka.

Rakyat [sudah] Tidak Bodoh [lagi]

Dengan pesatnya teknologi informasi, alat komunikasi, kemampuan masyarakat untuk membaca yang cukup baik; walau belum sampai tahap membaca dibalik kata untuk mencari makna, serta pemenuhan kebutuhan konsumtif pasar dan strategi penjualan demi mendapatkan “cuan” – istilah yang penulis pun malas untuk menggunakannya, ditulis demi memudahkan dalam memahami konteks yang terjadi di masyarakat kini, maka kondisi termutakhir mengenai pandemi yang terjadi menjadi pusat perhatian dunia. Disini letak kesalahan manusia yang kerap diulang dan seakan tidak menjadi pelajaran. 

Kesalahan paling utama adalah Penyakit Lupa. Lupa menjadi kunci utama yang mengakibatkan “pandemi” ini terjadi. Beberapa sumber di internet yang sempat viral karena menyatakan bahwa semua ini rekayasa bermunculan dan memberikan pernyataan-pernyataan yang kontradiksi namun masuk akal untuk dicerna oleh orang awam. Bagi masyarakat yang hidup berdasarkan kebutuhan harian, hal tersebut tidak menjadi menarik karena mereka lebih memperhatikan kebutuhan makan harian yang sulit dan cuma bisa memakan janji-janji dari pemerintah dalam menanggulangi kondusi ekonomi yng semakin sulit. 

Dari lupa ini pula menimbulkan polemik dalam penanggulangan pandemi karena sebelumnya tidak dipersiapkan sebuah Protokol yang mampu menanggulangi ancaman bencana serangan biologis seperti Covid19 ini. Sebelumnya pernah ada Zika, SARS bahkan Ebola pada awal 1980an. Apakah manusia lupa dengan itu semua? Apakah pemerintah luput memperhatikan hal tersebut dan sibuk memperbutkan kursi serta kekayaan yang cuma semata demi mengembalikan uang modal kampanye para politisi? Apakah tidak ada yang benar-benar memperhatikan isi dari UU no 24 tahun 2007  “sangat ideal” sehingga seakan tidak mungkin untuk dilakukan dilapangan. 

Dan polemik ini memberikan ruang untuk aksi korupsi muncul, dan biasanya yang sering kita lihat dilapangan, seperti bantuan logistik yang dicegat dan dibagikan kepada yang tidak berhak, aksi nepotisme ketua RT/ RW  atau Lurah dan Camat yang akan memberikan bantuan kepada kerabat terlebih dahulu daripada masyarakat lainnya yang lebih membutuhkan, atau manipulasi angka pendapat bantuan yang melebihi angka seharusnya. Menjadi wajar ada yang berpikiran demikian berdasarkan pengalaman terdahulu dan kebiasaan yang dijadikan “budaya yang dilestarikan” oleh tokoh masyarakat bahkan oleh ASN untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jika terdapat proses audit dalam pembagian bantuan ini dan ucapan Ketua KPK benar bahwa “Korupsi saat Bencana Covid-19 Terancam Hukuman Mati” maka seharusnya masyarakat menjadi lebih tenang. Sedikit melihat kebelakang dan kembali bertanya bagaimana dengan kasus korupsi dana ketika Gempa Lombok? Apakah sudah ada kejelasan atau sudah masuk peti es seperti kasus korupsi lainnya yang terjadi di Indonsia.

Data imengenai pandemi pun tidak bisa dipercaya. @kemenkesRI per 3 Juli 2020 menyatakan bahwa jumlah pasien yang meninggal 3036 nyawa (https://www.youtube.com/watch?v=WgdxM53n1Lk) sedangkan sumber lain https://www.iiss.org/events/2020/06/indonesias-response-to-covid-19 menyatakan jumlah kematian per 1 juni sudah 6000 kematian. Mana yang benar dan mana yang bisa dipercaya sebagai sumber informasi yang valid.

 

 

Posted in #LiFe | Leave a comment