[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | Leave a comment

Is it smoking or non smoking, sebuah pertanyaan yang masih ditanyakan di negeri ini

Perihal rokok di tempa umum atau publik saya sepakat dan ikut menyatakan ketidaksetujuan jika masih ada yang melanggar Perda tersebut ( UU no 32 tahun 2009, UU no 39 tahun 2009, PP nomer 109 tahun 2012, Perda No 2 tahun 2005)

Perihal rokok di tempat umum atau ruang publik saya sepakat dan ikut menyatakan ketidaksetujuan jika masih ada yang melanggar Perda tersebut (Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara). Saya perokok, namum masih punya otak dan mengaku salah jika memang masih melanggar peraturan.

Semalam, kembali dibahas topik yang cenderung basi ini di satu tempat kuliner di Jalan Pandu Raya. Menjadi absurd karena jalur koordinasi manajemen yang kacau sehingga alur komando yang tidak jelas dalam memberikan instruksi pada karyawan yang bekerja pada tempat kuliner tersebut. sehingga, yang terjadi adalah pemilik usaha menginformasikan kepada karyawan dari usaha lain yang tidak ada hubungannya dengan kebijakan mengenai kawasan rokok, kebersihan lokasi pelanggan dan hal lain yang sewajarnya diinfokan ke pemilik tempat sebagai penyewa gedung.

perihal rokok, dari sumber ini ( hPerihal rokok di tempat umum atau ruang publik saya sepakat dan ikut menyatakan ketidaksetujuan jika masih ada yang melanggar Perda tersebut (Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara). Saya perokok, namum masih punya otak dan mengaku salah jika memang masih melanggar peraturan.

Semalam, kembali dibahas topik yang cenderung basi ini di satu tempat kuliner di Jalan Pandu Raya. Menjadi absurd karena jalur koordinasi manajemen yang kacau sehingga alur komando yang tidak jelas dalam memberikan instruksi pada karyawan yang bekerja pada tempat kuliner tersebut. sehingga, yang terjadi adalah pemilik usaha menginformasikan kepada karyawan dari usaha lain yang tidak ada hubungannya dengan kebijakan mengenai kawasan rokok, kebersihan lokasi pelanggan dan hal lain yang sewajarnya diinfokan ke pemilik tempat sebagai penyewa gedung.

perihal rokok, dari sumber ini ( https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4f5972d3e471d/sanksi-pidana-bagi-pelanggar-kawasan-dilarang-merokok/) dapat terlihat berbagai informasi mengenai landasan hukum perihal merokok di tempat umum. berikut ini merupakan kutipan dari artikel tersebut. ) dapat terlihat berbagai informasi mengenai landasan hukum perihal merokok di tempat umum. berikut ini merupakan kutipan dari artikel tersebut.

Perlu diketahui bahwa di Indonesia belum ada peraturan perundang-undangan yang secara langsung mengatur mengenai ketentuan pidana bagi seseorang yang merokok yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Hal ini karena, secara umum seseorang tidak akan meninggal dunia karena sekali terkena asap rokok orang lain.

Namun, untuk mengurangi dampak negatif penggunaan rokok, pemerintah telah memberikan berbagai peraturan perundang-undangan, di antaranya adalah dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”) dan peraturan perundang-undangan lainnya yang telah Anda sebutkan. Selain itu, pemerintah juga mengaturnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (“PP 109/2012”) yang antara lain mengatur mengenai penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau (termasuk rokok) bagi kesehatan meliputi:
– produksi dan impor;
– peredaran;
– perlindungan khusus bagi anak dan perempuan hamil; dan
– kawasan tanpa rokok.

Jika melihat ke dalam Pasal 18 Pergub 88/2010 disebutkan bahwa tempat atau ruangan merokok harus terpisah secara fisik dan terletak di luar dari gedung serta letaknya jauh dari pintu keluar masuk gedung.

Pimpinan dan/atau penanggungjawab tempat yang ditetapkan sebagai Kawasan Dilarang Merokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, apabila terbukti tidak memiliki komitmen, tidak membuat penandaan, tidak melakukan pengawasan kawasan dilarang merokok di kawasan kerjanya dan membiarkan orang merokok di Kawasan Dilarang Merokok, dapat dikenakan sanksi administrasi berupa:
– peringatan tertulis;
– penyebutan nama tempat kegiatan atau usaha secara terbuka kepada publik melalui media massa;
– penghentian sementara kegiatan atau usaha; dan
– pencabutan izin.
Namun, memang dalam penegakan aturan kawasan dilarang merokok ini dapat dikatakan belum efektif sebagaimana dicontohkan untuk di Kota Bogor dalam Siaran Pers: YLKI Mendesak Walikota Bogor Konsisten Tegakkan Perda Kawasan Tanpa Rokok sebagaimana yang kami akses dari laman Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia berikut ini:

Kota Bogor adalah salah satu pemerintah daerah di Indonesia yang menjadi pelopor regulasi tentang Kawasan Tanpa Rokok. Terbukti sejak 2009, Pemkot Bogor telah mensahkan Perda No. 12.Tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
Namun, tampaknya implementasi di lapangan masih kedodoran. Ini menunjukkan implementasi Perda tentang KTR di Kota Bogor tidak efektif, tidak serius, dan tidak konsisten. Salah satu contoh nyata pelanggarannya adalah di Hotel Aston Bogor Nirwana Resort (BNR). Menurut hasil temuan YLKI pada Rabu, 04/10/2017 pelanggaran KTR di Hotel Aston sangat tinggi. Pertama, tidak ada penandaan logo Kawasan Tanpa Rokok di area lobby hotel. Padahal sebagian besar lobby hotel adalah ber-AC dan tertutup. Kedua, akibatnya banyak orang merokok di area lobby Hotel Aston bahkan di resto. Ketiga, banyak ruang/kamar hotel Aston Bogor yang menyediakan asbak rokok. Termasuk di lobby hotel terdapat banyak asbak rokok.

Jelas, dari informasi diatas dapat diketahui bahwa pemilik tempat tidak bisa serta merta menyuruh karyawan tidak merokok jika sebelumnya tidak menyediakan kawasan untuk merokok. Dan peraturan ini berlaku kepada semua, bukan hanya karyawan saja namun juga pelanggan. Apakah pemilik usaha sudah memikirkan sampai sejauh itu sebelum melarang-larang?

Tulisan ini merupakan kontribusi aktif penulis kepada seluruh pemilik tempat usaha publik, baik usaha kuliner, jasa kesehatan atau bidang lain yang berhubungan dengan peraturan tersebut diatas. Semoga bisa lebih bijaksana dalam mengambil sikap.

Posted in #LiFe | Leave a comment

Sementara adalah ketetapan yang berjalan

Saya tidak bisa menggambar. Setidaknya, tidak bisa seperti yang saya perhatikan dari kemampuan mereka yang bisa dengan mudahnya membuat wajah, tubuh, lembah dan alam secara utuh.

Saya sadar diri dan membutuhkan bantuan dari penggaris, pensil dan penghapus yang setia menemani ketika aku berusaha menuangkan proyeksi dari alam pikiran.

“Thou shalt eat the herb of the field” Genesis 3:18 / Holy Piby

Terkadang, untuk dapat memperjelas proyeksi tersebut, cara untuk menstimulan pikiran adalah dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Konsep mendekat ke alam bukan hanya dengan hidup di alam, namun pola sosial, pola makan dan berbagai hal teknis yang saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat dunia.

Konsep hidup di dunia ini hanya sementara diterima oleh 3 agama Samawi, yang menerima konsep adanya Tuhan sebagai sang Pencipta, Adanya Nabi/Rasul sebagai utusanNya dan Alam ini akan berakhir (kiamat). Konsep ini memang berbeda dengan kepercayaan/agama lain yang mempercayai bahwa jiwa manusia itu abadi dan setelah kematian akan mengalami proses reinkarnasi.

Karena sementara, maka melakukan yang terbaik dalam hidup, bermanfaat bagi orang-orang disekitarmu, menjaga kelestarian alam, mendidik anak dan mengajarkan kebenaran adalah beberapa hal yang bisa dilakukan selama hidup di dunia.

Dan karena sementara itu pula, berkawan dengan siapapun, ngopi bareng anak-anak jalanan, makan nasi liwet bersama orang-orang terbuang dan terpinggirkan adalah yang saya lakukan selama masih bisa bernapas.

Contoh-contoh diatas tidak bermaksud untuk takabur atau mengintimidasi namun niat hati cuma sekadar berbagi. Mungkin ada kawan diluar sana yang melakukan hal yang sama.

Bagaimana dengan kalian? Apa yang sudah kalian lakukan? Silakan berbagi cerita jika berkenan ^^

Posted in #aksararaska, #api, #catatanperjalanan, #LiFe, PikiranPikiran | Leave a comment

Kronologi 4 Februari, Kekerasan tanpa Tindakan karena tidak ada bukti fisik.

Kami, saya dan anak, pulang dari mall btm sehabis membeli keperluan rumah,berjalan kaki menuju jalan Paledang. Kondisi trotoar kurang layak dan terdapat gerobak makanan sehingga kami terpaksa berjalan di badan kalan satu arah tersebut. Dari arah berlawanan, mobil angkot tidak mengurangi kecepatannya dan kaca Spion hampir mengenai dada saya namun tangan refleks menahan dan menyebabkan kaca Spion tersebut pecah dan lepas. Mobil angkot berhenti dan saya menghampiri. “bapak kenapa pukul Spion” tanya supir. Saya ga mukul, tangan refleks nahan kaeena bapak tidak mengurangi kecepatan. Lalu saya tanya “bapak tidak lihat ada rambu verboden di ujung jalan (pertigaan jalan juanda dan paledang)? Bapak melanggar rambu lalu lintas, hampir mencelakai pejalan kaki dan membawa kendaraan berpenumpang dengan ugal-ugalan. Lita ketemu di polsek saja pak, hemat saya, samba melihat plar nomer F 1988…. (huruf belakang tidak jelas). Saya berkalan kearah paledang dan supir ke arah btm. Didepan hotel sahira, supir itu mengejar dan memepetkan mobilnya ke Saya yang masih berjalan kaki menuju rumah. Sia bikang “ikut, kita ke polisi”. Anak Saya memutuskan pulang dan saya naik angkot tersebut, karena tujuan kita memang satu arah. Ia membawa kendaraan secara kebut-kebutan dan didepan gereja HKB ia memarkirkan mobilnya setelah dari arah berlawanan ada motor dengan 2 pengendara meneriaki angkot itu. Ternyata, dua orang itu Pemilik mobil aku mereka. Yang paling tua mengaku polisi, namun tidak menunjukkan tanda pengenal. Dia memaki2 dan mendorong dada saya. Saya merespon dengan mengatakan kita selesaikan so kantor polisi. Untuk kedua kalinya saya naik angkot tersebut dan masih dengan tujuan polsek bogor tengah. Namun depan gereja angkot iru putae arah dan Pemilik mobil bilang kita ga k3 polsek, kita ke pusat. Entah maksudnya apa, tapi disitu kesempatan saya loncat dari angkot karena jelas tujuan mereka bukan polsek bogor tengah. Entah niat apa yang ada dalam pikiran mereka. Saya bilang terakhir kali, kita selesaikan dihadapan polisi. Dan berjalan menuju polsek. Saya ambil kesimpulan, jika mereka berniat baik dan menyelesaikan masalah ini, mereka akan hadir di polsek.

Setelah sampai di polsek, saya tanya ke pos depan kantor polisi ean menanyakan jika ingin memberikan laporan tindakan kekerasan yang saya alami harus kemana? Disebutkan satu Ruangan samping pos tersebut yang berisi 4 orang polisi. 3 orang sedang makan, dan satu orang berkemeja merah maroon yang saya ajak bicara. Saya katakan kejadian tersebut diatas dan menggarisbawahi kata mengaku anggota polisi. Bapak tersebut mengarahkan ke bagian reserse di gedung yang berbeda. Sebelum masuk gedung, saya memastikan kepada Bapak yang mengaku bernama Medi, dan beliau bertanya ada urusan apa, sekali lagi saya ceritakan kejadian diatas. Dan beliau mengarahkan Ruangan mana yang perlu dituju, lantai 3 Ruangan sebelah kiri.
Sampai di Ruangan tersebut, sepertinya sedang ada kejadian karena sedang ada orang-orang berkumpul. Akhirnya ada Satu polisi yang tidak mengenalkan namanya bertanya ada perlu apa, saya bilang mau melaporkan tindakan kekerasan yang saya alami. Reserse saru lagi yang berkata mata mengatakan ada luka? Tidak ada pak saya jawab. Kekerasan verbal, dorongan di dada saja yang saya alami. Lalu mereka berdua menyarankan satu reserse yang belakangan mengaku bernama heru untuk ajak saya duduk bareng dulu dan akhirnya saya dibawa ke luar Ruangan. Singkat cerita, saya ulang kembali cerita diatas, dan karena tidak ada bukti luka, Pemilik mobil yang tidak hadir di kantor polisi sehingga kesimpulan yang didapat adalah polisi tidak bisa menindak laporan saya. Bahkan mereka tidak menanyakan identitas, menulis pada sebuah buku laporan atau apapun yang menyatakan nahwa mereka akan melakukan upaya pengusutan. Terkesan hal remeh di mata mereka mungkin. Jadi saya kembali ke rumah berjalan kaki dan menanyakan kondisi anak melalui wa.
Sesampainya di rumah, saya mengetik kronologi ini dengan niatan agar mendapatkan penjelasan bagaimana sikap yang perlu diambil karena keamanan diri saya dan anak seakan tidak menjadi perhatian dari tindakan kekerasan, verbal maupun fisik, bahkan oleh pihak aparat, dalam hal ini polisi.

Mohon pencerahan. Sekian dan terimakasih.

Posted in #LiFe | Leave a comment

Menanti Masa

Angin bertemu perlahan
Suara gemuruh tanda hujan datang
Perut berbunyi tanda mau makan
Sepi di hati kian berseri
Buat baut di meja kayu
Diselimuti karat tanda waktu
Nur yang di nanti tak kunjung berlalu
Hanya ingin berdua hingga Tua nanti

Posted in #LiFe | Leave a comment

Frekuensi

Ketika kita berbicara dengan seseorang yang tidak satu frekuensi dengan kita seakan kita sedang berbicara dengan orang yang tidak bisa menerima kritik atau tidak bisa menerima Kesalahan dirinya. Ia selalu ingin didengar tanpa sedikit pun mau mendengar ucapan orang lain. Dan jika ia terbukti salah, ia akan pura-pura tidak mendengarkan atau mengalihkan topik pembicaraan.

Hal ini lumrah jika kita sedang berbicara dengan seorang anak kecil, namun menjadi aneh ketika sedang berhadapan dengan orang yang mengaku sudah dewasa. Jelas, bahwa percakapan yang terjadi hanya akan menguras energi dan membuang waktu percuma.

Dan waktu kita di dunia terbatas, mengisinya dengan hal tak berguna akan menjadi suatu kerugian. Waktu tidak bisa diulang atau dikembalikan jika sudah berlalu atau terlewati.

Semoga, selama ini, bukan kesia-siaan yang kita lakukan. Aamiin.

#aksararaska #LiFe #untukdiheningkan #naturephotography #pemandangan #seharihari #photography #amateur

View this post on Instagram

Ketika kita berbicara dengan seseorang yang tidak satu frekuensi dengan kita seakan kita sedang berbicara dengan orang yang tidak bisa menerima kritik atau tidak bisa menerima Kesalahan dirinya. Ia selalu ingin didengar tanpa sedikit pun mau mendengar ucapan orang lain. Dan jika ia terbukti salah, ia akan pura-pura tidak mendengarkan atau mengalihkan topik pembicaraan. Hal ini lumrah jika kita sedang berbicara dengan seorang anak kecil, namun menjadi aneh ketika sedang berhadapan dengan orang yang mengaku sudah dewasa. Jelas, bahwa percakapan yang terjadi hanya akan menguras energi dan membuang waktu percuma. Dan waktu kita di dunia terbatas, mengisinya dengan hal tak berguna akan menjadi suatu kerugian. Waktu tidak bisa diulang atau dikembalikan jika sudah berlalu atau terlewati. Semoga, selama ini, bukan kesia-siaan yang kita lakukan. Aamiin. #aksararaska #LiFe #untukdiheningkan #naturephotography #pemandangan #seharihari #photography #amateur

A post shared by Tb. J. E. C. Lawalata (@tuanjuan_) on

Posted in #LiFe | Leave a comment

Persinggahan

Beberapa waktu lalu, aku kembali ke kota Jakarta. Sudah lebih dari 2 tahun tidak memasuki kota yang katanya metropolis ini. Dan mungkin karena status metropolis itu, Jakarta tetap mempertahankan kekumuhan kota dan sampah yang berserakan. Apalah arti sebuah kota Metropolis jika tidak ada bagian kumuh dalam lingkungan masyarakat kota tersebut.

Opini dari mayoritas warga kota mengenai warga yang kurang berpendidikan merupakan pelaku pembuangan sampah tersebut justru sangat tidak mendidik, dikotomi masyarakat sangat tidak efektif jika berhubungan dengan masalah lingkungan, sebab hanya dengan bersatu maka isu lingkungan masyarakat tersebut dapat diatasi. Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga dan lingkungan bermula dari pendidikan yang mumpuni pada tingkat keluarga, sehingga dapat mempengaruhi sekitarnya, baik secara verbal dan non verbal. itu ideyang sungguh ideal, namun pelaksanaan di lapagan sangat berbeda jauh dengan aaapa yang direncanakan di atas kertas, seperti biasa.
Lalu bagaimana bisa membuat masyarakat menjadi sadar bahwa lingkungan kian hari kerap menjadi korban dengan segelintir dari masyarakat yang membela?
Pendapat yang mengatakan bahwa alam akan terus bertahan dan akan kembali mengembalikan keseimbangan alam ada benarnya, namun dengan resiko yang . cukup menakutkan bahkan sering diasalahartikan. Cenderung bodoh bagi mereka yang sepakat dengan pernyataan tersebut.

Namun alam mempunyai cara untuk mengurangi populasi manusia yang sudah berlebihan. Kita kenal dengan nama Bencana Alam. Sebagian besar karena ulah manusia sendiri dan sisanya memang kehendak Tuhan. Dan bagi mereka yang tidak menerima konsep Tuhan sebagai sang Pencipta, maka silakan membaca sejarah manusia, setiap kejadian mempunyai pola yang berulang, dan begitu pula dengan bencana. Namun, kembali kepada interpretasi masing-masing dalam memahami konsep ketuhanan tersebut. Satu yang pasti, bahwa Alam akan selalu berusaha menyeimbangkan kehidupan.

#sunset #diskusisenja #aksararaska #naturephotography #LiFe #igers #urbanphotography #jakarta #urban #metropolis #socialproblem

View this post on Instagram

Beberapa waktu lalu, aku kembali ke kota Jakarta. Sudah lebih dari 2 tahun tidak memasuki kota yang katanya metropolis ini. Dan mungkin karena status metropolis itu, Jakarta tetap mempertahankan kekumuhan kota dan sampah yang berserakan. Apalah arti sebuah kota Metropolis jika tidak ada bagian kumuh dalam lingkungan masyarakat kota tersebut. Opini dari mayoritas warga kota mengenai warga yang kurang berpendidikan merupakan pelaku pembuangan sampah tersebut justru sangat tidak mendidik, dikotomi masyarakat sangat tidak efektif jika berhubungan dengan masalah lingkungan, sebab hanya dengan bersatu maka isu lingkungan masyarakat tersebut dapat diatasi. Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga dan lingkungan bermula dari pendidikan yang mumpuni pada tingkat keluarga, sehingga dapat mempengaruhi sekitarnya, baik secara verbal dan non verbal. itu ideyang sungguh ideal, namun pelaksanaan di lapagan sangat berbeda jauh dengan aaapa yang direncanakan di atas kertas, seperti biasa. Lalu bagaimana bisa membuat masyarakat menjadi sadar bahwa lingkungan kian hari kerap menjadi korban dengan segelintir dari masyarakat yang membela? Pendapat yang mengatakan bahwa alam akan terus bertahan dan akan kembali mengembalikan keseimbangan alam ada benarnya, namun dengan resiko yang . cukup menakutkan bahkan sering diasalahartikan. Cenderung bodoh bagi mereka yang sepakat dengan pernyataan tersebut. Namun alam mempunyai cara untuk mengurangi populasi manusia yang sudah berlebihan. Kita kenal dengan nama Bencana Alam. Sebagian besar karena ulah manusia sendiri dan sisanya memang kehendak Tuhan. Dan bagi mereka yang tidak menerima konsep Tuhan sebagai sang Pencipta, maka silakan membaca sejarah manusia, setiap kejadian mempunyai pola yang berulang, dan begitu pula dengan bencana. Namun, kembali kepada interpretasi masing-masing dalam memahami konsep ketuhanan tersebut. Satu yang pasti, bahwa Alam akan selalu berusaha menyeimbangkan kehidupan. #sunset #diskusisenja #aksararaska #naturephotography #LiFe #igers #urbanphotography #jakarta #urban #metropolis #socialproblem

A post shared by Tb. J. E. C. Lawalata (@tuanjuan_) on

Posted in #LiFe | Leave a comment

Perempuan kuat Bertahan, Lelaki terus Berjalan

Dibalik keindahan alam, terbitnya matahari dan redupnya rembulan, baik dan jahat bermain peran. Lelaki dan perempuan, hewan dan tumbuhan, para pemeran, beberapa amatiran dan sebagian kawakan.

Peran lain yang ingin tidak begitu kelihatan kini mulai muncul ke permukaan, selain lelaki dan perempuan, hewan dan tumbuhan.

Ketika semua ingin tampil, menghilangkan nyawa pun dilakukan. Manusia membunuh manusia, manusia membunuh hewan, manusia membunuh tumbuhan. Hewan dan tumbuhan sedari dulu telah menjadi korban.

Continue reading

Posted in #aksararaska, #budaya, #LiFe, #opini | Tagged , , , , , , | Leave a comment