[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | 2 Comments

Just another monologue

I wrote this on someone else LinkedIn page…

Restart everything at the age of 38. Yes it’s hard to get a job nowadays, even friends seems to be nowhere to be found when you need them. “basic survival thought us to use every means necessary to prolong your life” then I start small business like selling things inside your house, then use the money to make things that’s support your basic needs and then start selling it to your neighbors and communities. Then let’s see what happen. It’s been 4 years since I don’t work in an office anymore. I lived and I’ll survived. It all starts before the pandemic comes.. And yet, I survived. So.. I can only say ‘bring it on’ :)

Hope you are doing well there. Keep the spirit :)

So she resigned sometime in earlier this month. I don’t know why, and I don’t asked her to explain it to me. All I know that she has made-up her decision and it’s not our concern to think otherwise.

It’s a big step to restart your life if you’re in your late 30’s but one must do what he or she want to do, right? Sometimes it’s the fucked up situation and condition that’s made someone need to take the hard decision in their life. Aome5inw they are people that sucks you to the deepest hole and left you there in the dark. But the truth is, it is you that put yourself in that position.

So, stop blaming others for your actions and start making decisions to climb that ladder again. And pray that you still have enough time to make it to the top once again :)

Cheers

Homemade Iced cappuccino with jelly. Contact me for ordering
Posted in #LiFe | Leave a comment

M

Apa kabar M?

KaMu diaM saja M

Apakah tak ada yang ingin kaMu bicarakan M?

Siapa tahu keMatian sudah dekat

Dan tak ada waktu untuk Menyatakan rasa ini

Terkadang Manusia MeMang deMikian

Sulit untuk Melihat apa yang ada dihadapan

Dan Mencari yang tak ada

Tapi apakah kita seperti M?

Seperti orang kebanyakan?

Aku pikir kira berbeda M

KaMu pun tahu itu

Tapi

Posted in #LiFe | Tagged , | Leave a comment

Celoteh Sore #09032021

Apa yang sanggup kita lakukan di dunia cuma berasumsi berdasarkan arahan yang sudah diberikan oleh Pencipta. Tinggal ikutin perintah aja kok pada ribet. Manusianya yang bikin ribet dengan segala “free will”, filosofi dan segala ajian dan mantra yang diturunkan dari nenek moyang.

Kenapa asumsi? Sebab yang bisa menghakimi cuma Dia, bukan sesama manusia. Jika masih ada manusia yang merasa lebih dari pada manusia lainnya, mungkin dia kurang baca. Dan kalau pun suka membaca, mungkin rujukan yg digunakan salah. Mungkin. Ilmu manusia rentan kesalahan.

Dan jika membaca buku yang benar, tentu kita semua akan tahu bahwa mereka yang mengejar kehidupan dunia akan berakhir dimana. Dan itu pun masih perlu melewati masa pengadilan yang pasti akan datang, selama kita percaya. Jika tidak percaya, ya memang tidak masalah bagi mereka.

Semua kembali pada pilihan jalan mana yang akan dilalui dan dengan cara seperti apa menjalani sisa waktu yang ada. Karena jika fokus pada akhir yang sudah pasti, kita akan melupakan rasa nikmat hidup yang cuma sementara ini.

Posted in #LiFe | Leave a comment

Tidak kreatif bukan berarti tidakbisa mencintai seni

Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai by Theoresia Rumthe




Selesai baca ini di Kp. Galeri, ketika di traktir segelas kopi (thanks Je)

Sebuah cara yang tidak kreatif untuk mencintaimu adalah dengan menyebutkan nama kesayangan dalam sebuah ulasan buku di Goodreads. =)



View all my reviews

Posted in #LiFe | Leave a comment

[book review] aku sedih, aku kesal, aku butuh pertolongan… Ceunah

Tak terasa sudah lebih dari 2 tahun yang lalu aku ‘bertemu’ dengan buku ini dan baru Februari 2021 aku mulai membacanya

5 Juli 2018, kuunggah foto sampul buku yang pada saat itu <i>relate</i> banget dengan kondisi dan kebutuhan Jiwaku. Aku ingat saat itu sedang jalan berdua di toko buku dekat Tugu Kujang bersama salah satu alumni IPB Jurusan Ilmu Gizi. Jalan bareng ke toko buku, ngobrol-ngobrol tanpa membeli buku lalu malah ke salah satu pojok dan membeli cemilan pada saat itu seakan kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan untuk menghamburkan waktu dan uang pada hal yang sia-sia. Sungguh suatu kebiasaan buruk. Kini baru kusadari.

Kini 2021, akhirnya berkesempatan untuk membaca buku ini, mungkin karena akhirnya begitu banyak waktu luang yang tersedia atau mungkin karena niatnya baru bulat. Apapun alasannya, buku dengan konten motivasi yang ringan namun bermakna ini pada dasarnya merupakan buku yang “Baik” karena memuat kalamullah Allah Azza wa Jalla dan juga ucapan Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits-haditsnya. Namun disela-sela ucapan tersebut terdapat pula beberapa pernyataan yang “kontradiksi” dengan penafsiran kalamullah sebelumnya

Pernyataan pada halaman 66, “kaulah yang membentuk takdirmu sendiri” dan pada halaman 67″ kaulah yang akan membentuk takdirmu sendiri” yang penulis maksud kontradiksi dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang ‘berserah diri’

Seketika bacaan terhenti dan penulis berpikir ‘bukankah sebagai umat Muslim, yang artinya berserah diri, maka menyerahkan diri pada qadarullah adalah bentuk keimanan? Bekerja dan beribadah tiap Hari mensyukuri Takdir yang sudah terjadi karena setiap orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Dan bukankah jangan berambisi merupakan salah satu ajaran yang patut dilakukan?

Dengan menyatakan “kaulah yang membentuk takdirmu sendiri” seakan bermain Tuhan dan mencoba mengatur hidup sedangkan hidup sudah ada yang mengatur.

Namun, sering halaman berlanjut, semakin jelas bahwa maksud penulis adalah mencantumkan perkataan-perkataan yang ‘menenangkan dan dibutuhkan’ ketika sedang kesusahan, tak peduli apakah saling kontradiksi atau tidak. Itu yang menjadi masalah.

Namun, sebagai bacaan ringan yang cukup sesekali dibaca dan cocok untuk kebiasaan milenial saat ini yaitu cepat berganti, lupakan yang lalu jika sudah tidak perlu, maka buku ini cocok untuk tujuan itu.

Terima kasih untuk karya yang ringan dan ‘menenangkan’ ini.

Posted in #LiFe | Tagged , | Leave a comment

Sapaan Pagi Seorang Bocah kepada Pedagang Buku

“Nak, pinjam wifimu bentar ya? Mo nyapa teman2 lama” kubilang pada bocah yang lagi asik dengan hapenya.

Dengan sigap dia bilang “oke om! Emang om ga punya kuota? Hari gini?” lanjut dia ngenges.

“abis buat yutuban boy, om lagi belajar bikin gelang sama bikin sendok dari kayu, jadi nonton tutorial di yutub deh” jelasku ke anak kecil yang cerdas itu.

“udah on tuh om” dia Ngomong lagi.

“woke deh.. Bentar ya.. Om mo ngetik dl”

“ngetik apa sih om?”

“ngetik Salam ke teman2 di fb yang berhasil melewati 2020, Pandemi Sars cov2, phk, wfh, PSBB, PSPB, KKN, bansos, mensos, pansos dan singkat2an yg kadang ga da makna, cuma propaganda biar warga yg kaya ga di amuk massa yang ga punya kerja, tiap Hari harus ke jalan untuk jualan, di usir satpol pp tiap pagi, terus pindah tempat dan jualan lagi.

Mau nyapa mereka yang kehilangan keluarga, orang-orang tersayang, kehilangan pekerjaan dan pemasukan yang tetap maupun pemasukan sampingan, yang Ujung2nya nambah jumlah pengangguran. Mau nyapa mereka yang beruntung dapet bantuan tapi masih aja lupa bersyukur San bilang berasnya Bau atau warnanya ga putih, padahal banyak yang butuh tapi ga dapet bantuan sama sekali, mau kritik tapi takut di penjara karena kena UU ITE.

Mau nyapa mereka yang kaya didunia dan masih ingat untuk berbagi dengan saudara-saudara yang membutuhkan, mereka yang masih ingat sama Iman dan ajaran agamanya untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Mau nyapa bapak/ibu yang selalu menemani anak-anaknya dalam kondisi apapun, susah maupun senang, menemani mereka buat peer dan kadang nonton kartun yang sama dan udah di tonton Berulang-ulang karena ga punya tontonan lain. Ga mau nonton TV karena emang ga punya TV. Lagian acara TV isinya di sensor semua, cuma yang Baik-Baik aja yang ditampilkan, bukan memberikan kebenaran.

Mau nyapa mereka yang masih menerima teman2 apa adanya, walau kadang udah lupa, kenal dimana ya? Karena sudah lama lost contact padahal pernah janji akan tetap berteman selamanya. Mau nyapa mereka yang lupa kalau janji nanti ditagih, dan diminta pertanggungjawabannya.

Mau nyapa mereka yanh keujanan dari pagi sampai malam, lalu mereka yang kebanjiran, dan mereka yang mencoba menolong tanpa meminta bayaran. Para relawan, petugas kemanusiaan dan orang-orang yang punya hati nurani untuk sekedar berbagi, sesuai kapasitas yang dimiliki. Mereka yang cuma bisa mengingatkan, menegur diri sendiri, “Apa yang sudah kamu lakukan Hari ini?”

“mau ngetik itu aja kok, boy. Tuh, udah beres kan?. Makasih loh wifinya. Om. Jadi bisa me nyambung silaturahim dengan teman2. Di fb, yg mungkin sudah kenal dari jaman esde. Mungkin sebagian sudah ada yang meninggal, entah. Sudah lama tidak bersua. Nanti klo ada kesempatan, enaknya cerita sambil ngopi dan makan pisang goreng atau sampeu.

Nanti kalau masih ada Umur. Inshaallah

Update status gini kan penanda kalau diri ini masih hidup, walau mungkin tanpa kuota dan uang di celana. Tanpa tau apa saja yang sudah terjadi karena setiap orang punya masalah sendiri. Cuma bisa saling mendoakan dan saling menyemangati dalam hati.

Aamiin.

240221,
06.06h

Gerimis kinyis2 menemani setiap baris kata dan kilobyte kuota yang minjem dari anak disebelah..

Posted in #LiFe | Tagged , , , , , | Leave a comment

Waktu Sangat Berharga

Konsep waktu yang menerus, tak pernah berulang dan rasa penyesalan berbanding lurus jika kita gambarkan dalam grafik kartesian. Oleh karena itu, bahan bacaan pun mendapatkan porsi yang sama agar tidak ada penyesalan.

Mengapa demikian? Sebelum membaca, pembaca perlu cermati bacaan yang ada di hadapannya. Siapa penerbitnya, siapa pengarangnya, sinopsis ceritanya bagaimana, dan hal penting lainnya untuk melanjutkan ke tahap “mulai membaca” sebuah buku. Jika pada tahap awal tadi sudah tidak masuk kriteria, maka tidak alasan untuk melanjutkan membaca bahan tersebut.

Penulis ambil contoh buku karangan Viktor Frankl, diterbitkan oleh Noura Books, yang terafiliasi dengan Penerbit Mizan. Seperti umum diketahui oleh masyarakat, bahwa Penerbit Mizan didirikan oleh Haidar Bagir, salah seorang tokoh Syi’ah Indonesia. Sudah sejak lama, Penulis mengurangi membaca buku-buku dari Penerbit yang terafiliasi oleh Mizan, salah satunya adalah Penerbit Noura.

Namun ucapan terima kasih kepada @visarahleiden yang membuat penulis melirik buku ini dengan salah satu cuitannya untuk open discussion tentang isi buku tersebut. Sayang, setelah mulai membaca malah sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan.

Tanya sebab? Salah satunya adalah yang sudah dikemukakan sebelumnya, mengenai Penerbit. Dari satu faktor itu saja, pembaca bisa mulai memilah apakah perlu untuk membaca buku tersebut atau tidak. Lalu pengarangnya, latar belakang pengarang, review buku-bukunya, opini pengarang lain mengenai karya pengarang ybs dll bisa menjadi parameter seorang pembaca untuk menilai buku yang akan dibaca tsb.

Dan untuk memastikan apakah prejudis yang dilakukan calon pembaca terhadap buku itu lebih valid, lakukan skimming di awal dan akhir buku. 20 halaman pertama dan terakhir dari sebuah buku biasanya menyimpan ‘cerita kunci’ yang bisa juga dijadikan parameter apakah buku tersebut layak baca atau tidak.

Berdasar atas penjelasan diatas, buku karangan Viktor Frankl ‘man’s search for meaning’ penulis kategorikan tidak layak baca. Jika diluar sana ada pembaca yang menaruh perhatian terhadap buku tersebut dan mengatakan sebaliknya, hal itu sangat wajar.

Pov penulis pun debatable, argumen pun selalu ada jika ada yang bertanya. Bagaimana menurut pembaca?

Sebagai pelengkap, berikut penulis bagikan tautan mengenai forum debat antara Sunni dan Syi’ah (https://youtu.be/OUnSqYn2X5s), yang didalamnya menyatakan bahwa Mizan, Penerbit yang didirikan oleh Haidar Bagir, sempat menerbitkan buku yang di kemudian Hari malah di lupakan oleh para ulama Syi’ah sendiri. Kesan propaganda dari pihak Syi’ah dalam perilaku sehari-hari dan dalam buku-buku yang diterbitkan, Mizan dan penerbit-penerbit lainnya, memiliki kecenderungan melakukan propaganda yang sama. Oleh karena itu, alangkah bijaksananya jika menggunakan waktu untuk membaca buku-buku yang lebih bermanfaat.

Posted in #aksararaska, #LiFe | Tagged | Leave a comment

Dikte Sore

“aaaaah”

Anak sma yang sedang duduk di hadapan laptop pinjaman agar ia bisa bersekolah daring di tengah pandemi yang sedang terjadi, berteriak mengagetkan ayahnya yang sedang membaca buku sambil menunggu roti kukus yang ia buat untuk cemilan malam ini.

Mereka baru saja pulang dari Ibadah dan perut mereka sedikit lapar dan agar selamat melewati malam hari yang dingin namun penuh nyamuk, mereka harus makan.

“Apa si teriak-teriak” sergah sang ayah

“besok ada ulangan geografi. Ada surel baru masuk ngasih tau soal itu” jelas sang bocah.

“malam amat ngasih taunya, kamu harus belajar sampai malam berarti. Atau tidur dulu sekarang, nanti jam dua-an bangun dan lanjut belajar. Sempatkan untuk laporan sama Dia” runut ayah memberikan instruksi

Seperti tidak senang dengan hidupnya diatur-atur terus oleh sang ayah, anak itu pun menyanggah. “tidak. Aku mau belajar sekarang saja.”

“oh. Kalau gitu bagus.” lanjut ayah.

“berarti kamu punya waktu 20menit untuk mulai membaca semampumu lalu akan ada quiz kecil tentang apa yang kamu baca” ayah terus bicara sambil terus memperhatikan roti kukus yang sedang ia buat untuk cemilan malam.

Lalu Ayah teringat masa ketika ibunya suka menemani sore hari dengan belajar bersama. Ia akan mendiktekan soal atau bertanya beberapa pertanyaan dan akan mengulang hingga anaknya benar-benar paham. Masa ketika orang tua benar-benar ada disamping anak-anaknya, ketika harga kebutuhan tidak selangit, ketika prestise bukan menjadi semacam make-up yang perlu di pakai setiap hari agar terlihat cantik.

Ketika itu orang tua masih mencoba untuk hadir bersama anak disela kesibukan mereka bekerja dan mengurus rumah tangga. Semakin jarang terlihat karena kini sudah umum ketika ayah dan ibu berangkat kerja di pagi hari, menitipkan anak ke saudara, atau jika kalian keluarga berlebih, akan menitipkan anak ke daycare atau sekolah dengan asrama sehingga urusan anak akan di urus oleh nanny atau guru sekolah dan dengan harga yang tidak murah.

Mungkin sejak itulah istilah “pendidikan itu mahal” semakin santer terdengar. Orang tua akan secara terang-terangan meninggalkan anak-anaknya demi mencari uang untuk membiayai pendidikan yang mahal tersebut. Sedikit melupakan bahwa orang tualah yang perlu menjadi model bagi anak-anaknya,.bukan nanny, guru privat atau pembantu.

Lalu terakhir, ia ingat perihal ibu anak itu, yang meninggalkan mereka karena kondisi ekonomi yang terjepit ketika penghasilan ayah dibawah kebutuhan keluarga. Itu materi pelajaran yang dia kuasai karena dia lulusan dari Teknik Geologi. Semua materi mengenai pembentukan batuan, proses pengendapan, litofikasi, eksogen dan endogen yang mempengaruhi sinklin dan antisinklin dan menyebabkan sesar dan joint. Itu merupakan ilmu yang dipelajari oleh mantan istrinya. Sedangkan ayah mempelajari menentukan apakah yang dipelajari oleh istrinya itu benar dengan melakukan eksplorasi ke lokasi penelitian dengan menggunakan metode geofisika. Kalau di pikir-pikir mereka pasangan yang cocok, dalam bidang keilmuan, namun terbukti tidak secara hubungan berpasangan. Terutama pasangan yang kesulitan uang.

Ayah melihat jam, 20.59. Satu menit lagi. Roti kukus sudah jadi. Ia akan memulai pertanyaan pertama sambil menyantap roti itu bersama anaknya. Belajar akan jauh lebih indah jika dibuat santai dan tenang. Sesuatu yang dipaksakan hanya akan menyebabkan luka lecet dan perih yang menyakitkan. Tinggal berdua bersama anak selama 12 tahun membuat ia mengetahuinya, walau masih perlu perbaikan disana-sini. Setidaknya ia masih berusaha.

“Jadi.. Bagaimana proses terbentuknya batuan dari sudut pandang teori tektonik lempeng?”

Posted in #aksararaska, #api, #biografi, #catatanperjalanan, #makanan, #monolog, #physics, #story, monolog | Leave a comment