[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | Leave a comment

1 1 2 3 5 8

View on Path

Posted in #LiFe | Leave a comment

Tidak Pernah Mencoba hal Baru itu Membosankan

3 tahun kalian tidak bertemu. Kini ia Makin membengkak. Ketika kamu katakan hal itu, sebuah tinju melayang ke arah bahumu. Cukup keras. Mungkin kamu layak mendapatkannya. Perempuan tidak pernah bisa menerima komentar tentang berat badan dan umurnya.

Lalu apa kabar menjadi pertanyaan selanjutnya. Basi memang. Kamu tidak pernah bisa memulai suatu pembicaraan dengan luwes. Namun, jika sudah ketemu orang yang bisa memancing aslinya kamu untuk keluar, maka jangan harap bisa berhenti berbicara, yah setidaknya minimal dari pagi ketemu pagi.. Kalau seru bisa 3 hari 3 malam kamu berbicara, berdiskusi, mendengarkan cerita sari berbagai umur dan pengalaman. Tapi itu lain cerita, kini dihadapanmu adalah seorang single parent dengan anak dua, perempuan dua-duanya, dari suami pertama. Baru saja bercerai untuk yang kedua kalinya. Belakangan kamu baru tau kalau dari suaminya yang kedua ia pun punya seorang putri yang telah selamat sampai surga tanpa harus melewati dunia ini.

Kini ia sedang berada di dalam kamar kontrakanmu, setengah telanjang karena ia membuka hijabnya untukmu. Janji. Itu yang menjadi permasalahan di antara kalian. Janji menikah yang tidak pernah terjadi. Walau kini sepertinya perkawinan akan segera terlaksana. Ya. Akhirnya demikian.

Di kamar mandi setelah selesai dengan ronde pertama, kalian melanjutkan yang selama ini tertunda. Lalu pun didalam tenda. Semua tempat selain ranjang, karena hal itu sudah mainstream.

“ah.. Ah.. AAAaaah” itu sudah yang kamu ingat kini. Teriakan nikmat yang ia keluarkan ketika jari dan lidahmu menggali lubang kemaluannya.

“aku baru saja mulai” balasmu sambil bibir basah dengan cairannya.

DUH, sabar ya dik, kamu belum juga beraksi.

Posted in #badai, #ladies, #LiFe, #monolog, Pikiran:Kenangan, woman | Leave a comment

Mencari Sepi, Terlalu Ramai yang Didapat

Ketika akhir pekan menjadi waktu untuk relaksasi atau liburan singkat setelah melewati pekan yang di penuhi dengan rutinitas dan tumpukan masalah, maka waktu untuk mendekat ke Alam adalah salah satu pilihan liburan akhir pekan yang menyehatkan sekaligus menghibur diri.

Akhir pekan kali ini, Gunung Salak menjadi pilihan sebagai tempat yang cocok untuk menjadi tujuan perjalanan. Selain dekat dengan kita tempat kamu tinggal, Gunung ini pun sedikit jarang di lalui oleh para pendaki yang Makin marak ditemukan di Gunung-Gunung komersil.

Mendaki menjadi sebuah hobby yang menjadi pilihan orang-orang perkotaan dan memberikan pemasukan bagi warga sekitar sehingga efektif positif dalam kehidupan serta perekonomian warga. Namun, keseimbangan dalam kehidupan membawa efek negatif bersama kedatangan para pendaki tersebut. Sampah menjadi isu utama. Kerusakan wilayah konservasi adalah pembahasan yang cukup mendalam dan kurang mendapat perhatian dari para pelaku serta pegiat Alam.

Gunung yang menjadi tempat untuk mencari kedamaian serta kontemplasi kini menjadi terlalu ramai. Oleh manusia dan oleh perilaku kota yang dibawa ke Gunung. Polemiek dalam konteks ini masih terus menjadi pembahasan tiada ujung. Diskusi demi diskusi terus terjadi namun solusi belum terpenuhi.

Akankah Gunung terus menjadi tempat sampah bagi orang-orang kota dan mereka yang tidak bertanggung jawab? Akankah sampah perlu dipungut dan di masukkan ke kantong sampah oleh orang lain? Mengapa tidak dikumpulkan oleh mereka yang membuangnya?

Posted in #LiFe | Tagged , | Leave a comment

Seleksi Alam : Sebuah Pandangan Umum

(sumber : Grup Chatroom Informal KBPA, foto kegiatan SAR Mak Titing, Cikole, Bandung, 2017)

Menyadari kenyataan bahwa pemikiran seseorang tidak akan pernah Sama satu dengan yang lainnya merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, manusia terkadang lupa bahwa ekspetasi adalah musuh dalam bayang-bayang yang selalu mengikuti kemana pun pemikiran pergi. Berdasarkan ilmu yang di pelajari oleh manusia, beberapa hal dalam hidup dapat di jelaskan secara empiris namun sebagaian lagi terkadang hanya dapat diterima oleh nalar, dan hal itu menyebabakan perbedaan persepsi dari masing-masing individu. Berbagai sudut pandang akan bermunculan jika sedang melakukan diskusi terbuka tentang suatu permasalahan. Oleh karena itu, perlu di lakukannya suatu metode untuk menyatakan pendapat dan sudut pandang tentang permasalahan yang sedang diangkat. Hal ini di pelajari oleh penulis ketika sedang berkegiatan di Bandung, bersama Forum Komunikasi KBPA se Bandung Raya. Menarik ketika setiap sebelum melakukan kegiatan, dilakukan sebuah kegiatan yang diberi nama ‘pandangan umum’. Kegiatan ini bertujuan agar mereka yang hadir memberikan ‘pandangan’ tentang Tema atau permasalahan yang akan dibahas. Tidak jarang memang beberapa individu yang hadir tidak paham makna dari pandangan umum ini dan hanya sekedar mengucapkan terimakasih, Salam, atau memperkenalkan diri saja. Terlepas dari itu, pandangan umum ini dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan inti sehingga akan terlihat sejauh mana pembahasan yang dilakukan dapat di pahami oleh mereka yang hadir. Dari sini, dapat dihitung sejauh mana kontribusi yang dapat diberikan oleh para individu yang menghadiri kegiatan tersebut dan sejauh mana komitmen yang diberikan terhadap apa yang mereka ucapkan. Polemik yang mungkin terjadi muncul disini. Ketika pembahasan serta pemahaman mengalami friksi dengan kepentingan-kepentingan yang mungkin terjadi. Biasanya kepentingan-kepentingan pribadi di dahulukan dari pada kepentingan-kepentingan bersama. Seleksi Alam pun terjadi. Tujuan, perencanaan dan implementasi pun kembali bersinggungan. Sejauh mana perjalanan sebuah pandangan umum memberikan pemahaman terhadap suatu permasalahan? Proses pembelajaran pun terus berjalan dan takkan pernah usai seperti jargon ‘Badai pasti berlalu, namun takkan pernah usai’ menjadi tepat digunakan. Silih berganti orang-orang datang dan pergi. Menjadi sebuah ‘keluarga’ itu tidak mudah dan menjaga keluarga yang ada menjadi semakin susah. Maka perlu diacungi jempol untuk mereka yang terus hadir, berkomunikasi dan berkontribusi aktif serta mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang ‘pilihan’ tersebut’. Mereka yang telah menjalani seleksi Alam secara terus menerus dan tidak padam. Salute. Bogor, 11 12 17 13.43h

Posted in #catatanperjalanan, #feature, #katakata, #LiFe, #opini, #words | Leave a comment

“Bangun, jangan tidur di luar seperti ini” katamu seraya menepuk pipiku

Malam itu kamu memang ingin tidur di luar. Gerah. Bukan hanya cuaca kota yang kian memanas namun telinga pun semakin memerah karena jengah mendengarkan masalah orang yang tiap hari di bicarakan tanpa mencari solusi yang jelas.

“Resiko tinggal di kampung yang padat” komentar salah seorang Sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesahmu ketika malam menemani kalian bersama segelas kopi hitam diatap kontrakan.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanyamu suatu ketika.

“Biarkan saja dan lihat apa yang terjadi. Hidup berjalan terus. Waktu takkan pernah terulang. Nikmati saja Hari demi Hari yang kamu lalui” jawabnya mantap.

“Bulan malam ini begitu terang dan Indah” ucapmu kepada putramu. Berbohong sedikit dengan mengatakan bulan itu indah adalah hal biasa yang dilakukan manusia di negara ini. Dan masih banyak bohong-bohong ‘Putih’ lain yang dilakukan oleh masyarakat seakan tidak peduli.

“Aku mau tidur di tenda” timpal anakmu, seakan bisa membaca pikiranmu untuk menikmati bulan dan malam ini denganz tidur di luar kamar kontrakan yang memang tidak begitu luas dan nyaman.

Tenda di buat nyaman, hammock dan sleeping bag pun tidak ketinggalan. Waktu belum tengah malam ketika Mata mulai terpejam. Gelisah. Resah. Gerah.
Ada apa ini? Pikirmu ketika kamu mendengarkan suara2 yang ingin membangunkanmu dari tidur.
Ajakan untuk tidur bersama pun di tawarkan. Bulan memang begitu Indah malam itu. Cerah sekali dan awan malu untuk menunjukkan wajahnya.

Mendekati tengah malam suara-suara itu Makin jelas dan diatas hammock yang bergoyang kamu di bangunkan dengan ditepuknya pipimu dan suara hujan serta basahnya air membuatmu semakin percaya bahwa ini nyata. Namun ketika kamu bangun bulan masih bergantung di cakrawala, awan pun masih malu-malu namun menemani. Dan tentu, tidak ada apa pun yang ada di situ. Yang ada hanya pipi yang memerah karena bekas tepukan – lebih bisa disebut tamparan sebenernya.

Posted in #aksararaska, #badai, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Pergerakan Lempeng Indo Australia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

#GempaLombok masih menjadi perhatian Rakyat bangsa Indonesia. Begitu banyak korban yang menderita setelah bencana tersebut terjadi. Pemerintah bekerja sama dengan #relawan dalam memberikan bantuan material, finansial dan juga spiritual.

Hingga kini, gempa susu language bahkan gempa Baru dengan magnitude hampir setara dengan gempa 7.0SR itu, telah terjadi dan sekitar 825 gempa susulan terjadi sejak saat itu. Masyarakat pun terus bertanya-tanya dan berdoa, akankah gempa ini berakhir?

Perhatian dari luar negeri pun bermunculan, Salah satunya ialah mempertanyakan mengenai keputusan presiden Republik Indonesia, Joko Widodo @jokowi yang tidak mengambil keputusan bahwa #gempalombok menjadi bencana nasional[Dilantin dari media sosial Twitter]. Berbagai komentar pun menimpali Cuitan tersebut. Dan Salah satu komentar yang menyatakan “mind your own business” pun sempat terlontar.

 

Kembali Pada kurangnya edukasi masyarakat mengenai kegempaan atau pergerakan lempeng, padahal bangsa ini tinggal Pada lokasi pertemuan beberapa lempeng aktif dunia, sehingga informasi mendasar mengenai gerak tektonik dan geodinamika negara Indonesia seharusnya sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat Indonesia. Ataukah tingkat pendidikan masyarakat benar-benar terpuruk sehingga tidak mengetahui informasi ini?

 

Artikel ini ditulis 1 tahun sebelum gempa Lombok terjadi, sekitar bulan juli 2017, ketika longsor terjadi di Kota Bogor. Pada saat itu, penulis mempertanyakan bagaimana penanggulangan Pemerintah jika terjadi gempa yang mengakibatkan Rakyat menderita? Tidak ada respon Kala itu. Kini, biarlah masyarakat yang menentukan apakah aspirasi seorang warga negara didengar oleh pemerintahan yang sedang berkuasa atau tidak. Setidaknya, bagi masyarakat artikel ini bisa menjadi acuan yang memberikan pernyataan bahwa bumi memang bergerak dan gempa memang terjadi setiap hari. Besar kecilnya gempa tersebut ada yang terasa dan ada yang tidak. Para ahli di BMKG bekerja keras menyediakan informasi bagi masyarakat mengenai kegempaan dan prakiraan cuaca Indonesia. Semoga artikel dibawah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.


Pergerakan kini semakin marak dibicarakan. Mulai dari pergerakan politik negara, pergerakan teroris yang kian hari kian absurd dan tidak lupa pula pergerakan komunitas ojek daring yang menjadi polemik baru bagi pemerintah.

Namun ada pergerakan yang diam-diam dan perlahan bergerak namun jika sekalinya bersuara akan menimbulkan bencana bagi umat manusia.

Pergerakan lempeng Indo Australia yang menurut Hall (2012) bergerak ~7 cm/tahun ke arah Timur Laut akan mengakibatkan bergesernya lempeng dan mengakibatkan gempa.

Besar kecilnya gempa yang ditimbulkan akan sangat berpengaruh kepada kehidupan manusia yang menempati daerah pemukiman.

Gempa masih menjadi bencana yang ditakuti oleh manusia karena gempa bisa bergetar pelan sehingga cuma instrumen peka yang bisa mendeteksi getaran tersebut. Dan gempa pun bisa menimbulkan getaran yang bisa merobek jalanan, bangunan hingga gunung yang dilewati oleh jalur gempa tersebut.

Negara Indonesia terletak di antara dua jalur gempa, yang juga merupakan jalur pegunungan api dunia atau yang lebih dikenal sebagai Cincin Api dan oleh karena itu rentan untuk mengalami bencana yang diakibatkan oleh pergeseran lempeng dan meletusnya gunung api.

Dua-duanya tentu bukan pilihan namun siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi? Alih-alih peperangan dengan bangsa sendiri yang kini semakin terasa friksi yang terjadi, bencana alam yang bisa menghabiskan nyawa manusia dalam sekejab lebih masuk akal untuk terjadi di negara ini.

Apa yang telah dipersiapkan oleh Pemerintah negara untuk mempersiapkan jika hal tersebut diatas terjadi?

Pergerakan Lempeng Indo_Australia (Engdahl et al, 1998 pada Hall, 2012)

Dengan studi yang dipelajari oleh para ahli dan kerja sama dengan pihak akademisi yang mempunyai hasrat mempelajari gejala yang ditimbulkan oleh alam, maka beberapa pilihan dan badan yang bekerja dalam penanggulangan bencana telah berkontribusi secara aktif untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Namun, tidak bisa dipungkiri, berbagai kepentingan telah menjadikan bantuan-bantuan tersebut dikebiri dan bahkan tidak sampai ke mereka yang membutuhkan. Kita ambil contoh bencana tanah longsor yang terjadi di kota Bogor.

Walikota Bima Arya bahkan sempat mengambil foto dirinya di atas puing reruntuhan rumah warga yang terkena musibah tersebut. Foto tersebut terpampang di akun Instagram [https://www.instagram.com/p/BV9mK2rFH0y/]

Namun apakah bantuan pasca bencana sampai ke warga? Apakah Pemkot kembali memperhatikan warga yang membutuhkan bantuan? Apakah bantuan yang diberikan sekedar selimut, terpal dan sembako yang hanya cukup untuk beberapa hari?

Polemik mengenai hal ini perlu dikaji lebih dalam dan semoga saja masih ada orang-orang yang memperhatikan hal-hal yang dianggap sepele dan tidak menguntungkan ini. Demi kemanusiaan.

Apakah kamu termasuk orang-orang tersebut?

Terlepas dari polemik di masing-masing daerah, penanggulangan bencana merupakan tugas bersama. Bukan cuma pihak Pemerintah yang perlu menjalankan roda Pemerintahan sehingga bisa melayani dan melindungi Rakyat, and perlu juga Dukungan dari Rakyat sebagai warga and negara yang memberikan kontribusi aktif kepada tanah air, bangsa dan negara. Semoga persaudaraan dan kesatuan negara masih bisa terjadi. NKRI Harga Mati.

Posted in #environment, #lingkungan | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Aku BERBEDA maka Aku SAMA

Di atap kontrakan ditemenin ama gelas teh manis..

Memandang gunung, melihat permainan cahaya

Dan suara itu kembali datang…

<i>Dengan menutup mata, aku melihat lebih banyak</i>

Dengan menyumbat telinga, aku mendengarkan lebih banyak
Dengan menutup mulut Aku berbicara lebih banyak
Dengan menutup hati, aku mati.
Tetapi aku ingin HIDUP! !!

Karena inilah Aku!

Posted in #LiFe | Leave a comment