[monolog] kamu, aku dan mereka

tak ada yang bisa mengaturmu
tak ada yang memanfaatkanmu

mereka tak akan menyangka bahwa kamu sebenernya…

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan | Tagged | 2 Comments

[book review] aku sedih, aku kesal, aku butuh pertolongan… Ceunah

Tak terasa sudah lebih dari 2 tahun yang lalu aku ‘bertemu’ dengan buku ini dan baru Februari 2021 aku mulai membacanya

5 Juli 2018, kuunggah foto sampul buku yang pada saat itu <i>relate</i> banget dengan kondisi dan kebutuhan Jiwaku. Aku ingat saat itu sedang jalan berdua di toko buku dekat Tugu Kujang bersama salah satu alumni IPB Jurusan Ilmu Gizi. Jalan bareng ke toko buku, ngobrol-ngobrol tanpa membeli buku lalu malah ke salah satu pojok dan membeli cemilan pada saat itu seakan kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan untuk menghamburkan waktu dan uang pada hal yang sia-sia. Sungguh suatu kebiasaan buruk. Kini baru kusadari.

Kini 2021, akhirnya berkesempatan untuk membaca buku ini, mungkin karena akhirnya begitu banyak waktu luang yang tersedia atau mungkin karena niatnya baru bulat. Apapun alasannya, buku dengan konten motivasi yang ringan namun bermakna ini pada dasarnya merupakan buku yang “Baik” karena memuat kalamullah Allah Azza wa Jalla dan juga ucapan Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits-haditsnya. Namun disela-sela ucapan tersebut terdapat pula beberapa pernyataan yang “kontradiksi” dengan penafsiran kalamullah sebelumnya

Pernyataan pada halaman 66, “kaulah yang membentuk takdirmu sendiri” dan pada halaman 67″ kaulah yang akan membentuk takdirmu sendiri” yang penulis maksud kontradiksi dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang ‘berserah diri’

Seketika bacaan terhenti dan penulis berpikir ‘bukankah sebagai umat Muslim, yang artinya berserah diri, maka menyerahkan diri pada qadarullah adalah bentuk keimanan? Bekerja dan beribadah tiap Hari mensyukuri Takdir yang sudah terjadi karena setiap orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Dan bukankah jangan berambisi merupakan salah satu ajaran yang patut dilakukan?

Dengan menyatakan “kaulah yang membentuk takdirmu sendiri” seakan bermain Tuhan dan mencoba mengatur hidup sedangkan hidup sudah ada yang mengatur.

Namun, sering halaman berlanjut, semakin jelas bahwa maksud penulis adalah mencantumkan perkataan-perkataan yang ‘menenangkan dan dibutuhkan’ ketika sedang kesusahan, tak peduli apakah saling kontradiksi atau tidak. Itu yang menjadi masalah.

Namun, sebagai bacaan ringan yang cukup sesekali dibaca dan cocok untuk kebiasaan milenial saat ini yaitu cepat berganti, lupakan yang lalu jika sudah tidak perlu, maka buku ini cocok untuk tujuan itu.

Terima kasih untuk karya yang ringan dan ‘menenangkan’ ini.

Posted in #LiFe | Tagged , | Leave a comment

Sapaan Pagi Seorang Bocah kepada Pedagang Buku

“Nak, pinjam wifimu bentar ya? Mo nyapa teman2 lama” kubilang pada bocah yang lagi asik dengan hapenya.

Dengan sigap dia bilang “oke om! Emang om ga punya kuota? Hari gini?” lanjut dia ngenges.

“abis buat yutuban boy, om lagi belajar bikin gelang sama bikin sendok dari kayu, jadi nonton tutorial di yutub deh” jelasku ke anak kecil yang cerdas itu.

“udah on tuh om” dia Ngomong lagi.

“woke deh.. Bentar ya.. Om mo ngetik dl”

“ngetik apa sih om?”

“ngetik Salam ke teman2 di fb yang berhasil melewati 2020, Pandemi Sars cov2, phk, wfh, PSBB, PSPB, KKN, bansos, mensos, pansos dan singkat2an yg kadang ga da makna, cuma propaganda biar warga yg kaya ga di amuk massa yang ga punya kerja, tiap Hari harus ke jalan untuk jualan, di usir satpol pp tiap pagi, terus pindah tempat dan jualan lagi.

Mau nyapa mereka yang kehilangan keluarga, orang-orang tersayang, kehilangan pekerjaan dan pemasukan yang tetap maupun pemasukan sampingan, yang Ujung2nya nambah jumlah pengangguran. Mau nyapa mereka yang beruntung dapet bantuan tapi masih aja lupa bersyukur San bilang berasnya Bau atau warnanya ga putih, padahal banyak yang butuh tapi ga dapet bantuan sama sekali, mau kritik tapi takut di penjara karena kena UU ITE.

Mau nyapa mereka yang kaya didunia dan masih ingat untuk berbagi dengan saudara-saudara yang membutuhkan, mereka yang masih ingat sama Iman dan ajaran agamanya untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Mau nyapa bapak/ibu yang selalu menemani anak-anaknya dalam kondisi apapun, susah maupun senang, menemani mereka buat peer dan kadang nonton kartun yang sama dan udah di tonton Berulang-ulang karena ga punya tontonan lain. Ga mau nonton TV karena emang ga punya TV. Lagian acara TV isinya di sensor semua, cuma yang Baik-Baik aja yang ditampilkan, bukan memberikan kebenaran.

Mau nyapa mereka yang masih menerima teman2 apa adanya, walau kadang udah lupa, kenal dimana ya? Karena sudah lama lost contact padahal pernah janji akan tetap berteman selamanya. Mau nyapa mereka yang lupa kalau janji nanti ditagih, dan diminta pertanggungjawabannya.

Mau nyapa mereka yanh keujanan dari pagi sampai malam, lalu mereka yang kebanjiran, dan mereka yang mencoba menolong tanpa meminta bayaran. Para relawan, petugas kemanusiaan dan orang-orang yang punya hati nurani untuk sekedar berbagi, sesuai kapasitas yang dimiliki. Mereka yang cuma bisa mengingatkan, menegur diri sendiri, “Apa yang sudah kamu lakukan Hari ini?”

“mau ngetik itu aja kok, boy. Tuh, udah beres kan?. Makasih loh wifinya. Om. Jadi bisa me nyambung silaturahim dengan teman2. Di fb, yg mungkin sudah kenal dari jaman esde. Mungkin sebagian sudah ada yang meninggal, entah. Sudah lama tidak bersua. Nanti klo ada kesempatan, enaknya cerita sambil ngopi dan makan pisang goreng atau sampeu.

Nanti kalau masih ada Umur. Inshaallah

Update status gini kan penanda kalau diri ini masih hidup, walau mungkin tanpa kuota dan uang di celana. Tanpa tau apa saja yang sudah terjadi karena setiap orang punya masalah sendiri. Cuma bisa saling mendoakan dan saling menyemangati dalam hati.

Aamiin.

240221,
06.06h

Gerimis kinyis2 menemani setiap baris kata dan kilobyte kuota yang minjem dari anak disebelah..

Posted in #LiFe | Tagged , , , , , | Leave a comment

Waktu Sangat Berharga

Konsep waktu yang menerus, tak pernah berulang dan rasa penyesalan berbanding lurus jika kita gambarkan dalam grafik kartesian. Oleh karena itu, bahan bacaan pun mendapatkan porsi yang sama agar tidak ada penyesalan.

Mengapa demikian? Sebelum membaca, pembaca perlu cermati bacaan yang ada di hadapannya. Siapa penerbitnya, siapa pengarangnya, sinopsis ceritanya bagaimana, dan hal penting lainnya untuk melanjutkan ke tahap “mulai membaca” sebuah buku. Jika pada tahap awal tadi sudah tidak masuk kriteria, maka tidak alasan untuk melanjutkan membaca bahan tersebut.

Penulis ambil contoh buku karangan Viktor Frankl, diterbitkan oleh Noura Books, yang terafiliasi dengan Penerbit Mizan. Seperti umum diketahui oleh masyarakat, bahwa Penerbit Mizan didirikan oleh Haidar Bagir, salah seorang tokoh Syi’ah Indonesia. Sudah sejak lama, Penulis mengurangi membaca buku-buku dari Penerbit yang terafiliasi oleh Mizan, salah satunya adalah Penerbit Noura.

Namun ucapan terima kasih kepada @visarahleiden yang membuat penulis melirik buku ini dengan salah satu cuitannya untuk open discussion tentang isi buku tersebut. Sayang, setelah mulai membaca malah sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan.

Tanya sebab? Salah satunya adalah yang sudah dikemukakan sebelumnya, mengenai Penerbit. Dari satu faktor itu saja, pembaca bisa mulai memilah apakah perlu untuk membaca buku tersebut atau tidak. Lalu pengarangnya, latar belakang pengarang, review buku-bukunya, opini pengarang lain mengenai karya pengarang ybs dll bisa menjadi parameter seorang pembaca untuk menilai buku yang akan dibaca tsb.

Dan untuk memastikan apakah prejudis yang dilakukan calon pembaca terhadap buku itu lebih valid, lakukan skimming di awal dan akhir buku. 20 halaman pertama dan terakhir dari sebuah buku biasanya menyimpan ‘cerita kunci’ yang bisa juga dijadikan parameter apakah buku tersebut layak baca atau tidak.

Berdasar atas penjelasan diatas, buku karangan Viktor Frankl ‘man’s search for meaning’ penulis kategorikan tidak layak baca. Jika diluar sana ada pembaca yang menaruh perhatian terhadap buku tersebut dan mengatakan sebaliknya, hal itu sangat wajar.

Pov penulis pun debatable, argumen pun selalu ada jika ada yang bertanya. Bagaimana menurut pembaca?

Sebagai pelengkap, berikut penulis bagikan tautan mengenai forum debat antara Sunni dan Syi’ah (https://youtu.be/OUnSqYn2X5s), yang didalamnya menyatakan bahwa Mizan, Penerbit yang didirikan oleh Haidar Bagir, sempat menerbitkan buku yang di kemudian Hari malah di lupakan oleh para ulama Syi’ah sendiri. Kesan propaganda dari pihak Syi’ah dalam perilaku sehari-hari dan dalam buku-buku yang diterbitkan, Mizan dan penerbit-penerbit lainnya, memiliki kecenderungan melakukan propaganda yang sama. Oleh karena itu, alangkah bijaksananya jika menggunakan waktu untuk membaca buku-buku yang lebih bermanfaat.

Posted in #aksararaska, #LiFe | Tagged | Leave a comment

Dikte Sore

“aaaaah”

Anak sma yang sedang duduk di hadapan laptop pinjaman agar ia bisa bersekolah daring di tengah pandemi yang sedang terjadi, berteriak mengagetkan ayahnya yang sedang membaca buku sambil menunggu roti kukus yang ia buat untuk cemilan malam ini.

Mereka baru saja pulang dari Ibadah dan perut mereka sedikit lapar dan agar selamat melewati malam hari yang dingin namun penuh nyamuk, mereka harus makan.

“Apa si teriak-teriak” sergah sang ayah

“besok ada ulangan geografi. Ada surel baru masuk ngasih tau soal itu” jelas sang bocah.

“malam amat ngasih taunya, kamu harus belajar sampai malam berarti. Atau tidur dulu sekarang, nanti jam dua-an bangun dan lanjut belajar. Sempatkan untuk laporan sama Dia” runut ayah memberikan instruksi

Seperti tidak senang dengan hidupnya diatur-atur terus oleh sang ayah, anak itu pun menyanggah. “tidak. Aku mau belajar sekarang saja.”

“oh. Kalau gitu bagus.” lanjut ayah.

“berarti kamu punya waktu 20menit untuk mulai membaca semampumu lalu akan ada quiz kecil tentang apa yang kamu baca” ayah terus bicara sambil terus memperhatikan roti kukus yang sedang ia buat untuk cemilan malam.

Lalu Ayah teringat masa ketika ibunya suka menemani sore hari dengan belajar bersama. Ia akan mendiktekan soal atau bertanya beberapa pertanyaan dan akan mengulang hingga anaknya benar-benar paham. Masa ketika orang tua benar-benar ada disamping anak-anaknya, ketika harga kebutuhan tidak selangit, ketika prestise bukan menjadi semacam make-up yang perlu di pakai setiap hari agar terlihat cantik.

Ketika itu orang tua masih mencoba untuk hadir bersama anak disela kesibukan mereka bekerja dan mengurus rumah tangga. Semakin jarang terlihat karena kini sudah umum ketika ayah dan ibu berangkat kerja di pagi hari, menitipkan anak ke saudara, atau jika kalian keluarga berlebih, akan menitipkan anak ke daycare atau sekolah dengan asrama sehingga urusan anak akan di urus oleh nanny atau guru sekolah dan dengan harga yang tidak murah.

Mungkin sejak itulah istilah “pendidikan itu mahal” semakin santer terdengar. Orang tua akan secara terang-terangan meninggalkan anak-anaknya demi mencari uang untuk membiayai pendidikan yang mahal tersebut. Sedikit melupakan bahwa orang tualah yang perlu menjadi model bagi anak-anaknya,.bukan nanny, guru privat atau pembantu.

Lalu terakhir, ia ingat perihal ibu anak itu, yang meninggalkan mereka karena kondisi ekonomi yang terjepit ketika penghasilan ayah dibawah kebutuhan keluarga. Itu materi pelajaran yang dia kuasai karena dia lulusan dari Teknik Geologi. Semua materi mengenai pembentukan batuan, proses pengendapan, litofikasi, eksogen dan endogen yang mempengaruhi sinklin dan antisinklin dan menyebabkan sesar dan joint. Itu merupakan ilmu yang dipelajari oleh mantan istrinya. Sedangkan ayah mempelajari menentukan apakah yang dipelajari oleh istrinya itu benar dengan melakukan eksplorasi ke lokasi penelitian dengan menggunakan metode geofisika. Kalau di pikir-pikir mereka pasangan yang cocok, dalam bidang keilmuan, namun terbukti tidak secara hubungan berpasangan. Terutama pasangan yang kesulitan uang.

Ayah melihat jam, 20.59. Satu menit lagi. Roti kukus sudah jadi. Ia akan memulai pertanyaan pertama sambil menyantap roti itu bersama anaknya. Belajar akan jauh lebih indah jika dibuat santai dan tenang. Sesuatu yang dipaksakan hanya akan menyebabkan luka lecet dan perih yang menyakitkan. Tinggal berdua bersama anak selama 12 tahun membuat ia mengetahuinya, walau masih perlu perbaikan disana-sini. Setidaknya ia masih berusaha.

“Jadi.. Bagaimana proses terbentuknya batuan dari sudut pandang teori tektonik lempeng?”

Posted in #aksararaska, #api, #biografi, #catatanperjalanan, #makanan, #monolog, #physics, #story, monolog | Leave a comment

Banyak berita duka di media, Bagaimana dengan yang tidak diberitakan?

Tulisan ini cuma fiksi yang mengambil sari dari kejadian yang sedang viral diberitakan media massa. Jika ada kesamaan alur atau plot yang terjadi, itu cuma suatu kebetulan saja.

Awalnya penangkapan ulama memang mengejutkan. Apalagi media membumbui dengan ‘rempah-rempah agar lebih sedap dibaca’. Bumbu yang membuat fakta menjadi kontroversi jika dilihat dari kacamata publik. Bayangkan, jika publik yang berpendidikan saja bisa dibuat jengah, apalagi dengan mereka yang tidak mengenal bangku sekolah?

Lalu baru-baru ini beberapa ulama meninggal dunia karena sakit. Ulama-ulama yang terbiasa berdakwah untuk kepentingan ummat. Semoga mereka khusnul khotimah.

Meninggal karena sakit setelah menjalani perawatan dirumah sakit saja sudah membuat hati ini merinding, karena penyakit yang di derita begitu kuat atau memang pelayanan yang diberikan terlambat atau mungkin kurang mampu menangani kondisi pasien.

Plot twist yang mungkin terjadi adalah ketika ada pihak-pihak yang sengaja menginginkan mereka Meninggal. Ini sungguh keji namun mungkin saja terjadi. Sebab, ummat lebih mendengar ucapan ulama daripada ucapan aparat pemerintah, yang memang terkenal korup dan tidak memikirkan kepentingan rakyat.

Posted in #badai, #catatanperjalanan | Tagged , , , , , | Leave a comment

5,883 days ago

bismillah.

…sambil menikmati hujan yang belum juga usai dari pagi tadi dan ditemani segelas kopi yang hampir usai.. aku mencoba mengingat kejadian sekitar 16 tahun lalu pada hari ini. Untuk membantu pikiranku lebih jernih mengingat kejadian yang sudah lampau itu, aku membuka ebook

“Bencana Lingkungan
dan Tragedi Manusia”

dan halaman yang aku cari adalah Tsunami Aceh 2004.

Mengapa kejadian itu yang membuatmu tertarik hari ini? Apakah karena kamu ingat ketika kejadian itu terjadidan kamu sedang beradaq di suatu daerah di Timur Jauh dan pada saat itu kamu melangkahkan kaki dari kosan dan berjalan menuju gerbang kampus untuk “nongkrong sore”, seperti hari-hari biasanya. namun hari itu tidak seperti hari biasanya. Kamu melihat beberapa teman dan kenalan yang sedang sibuk mengatur lalu lintas dan memegang kotak sumbagan. bberapa berdiskusi dekat plang nama kampus. dan banyak pula yang tidak peduli dan sibuk dengan masalah yang sedang mereka hadapi sendiri didalam kepala masing-masing. Basa-basi singkat, kamu pun bertanya

“Gw bisa bantu apa?”

..dan singkat cerita, hingga jam makan malam, kami masih berada di pinggir jalan dan mengais sumbangan dari supir truk dan pejalan kaki yang melewati depan kampus di Timur Jauh. Dan kini, sedikit pengingat tentang “dahsyatnya” bencana itu, berikut terjemahan bebas dari Ensiklopedia Bencana karangan Angus M. Gunn. Selamat membaca.

Sumatra, Indonesia,

earthquake and tsunami

December 26, 2004

Earth’s rotation slowed down for a fraction of a second 

The whole world was shaken by the massive earthquake and tsunami that struck Indonesia

Sumatera, Indonesia,

gempa bumi dan tsunami

26 Desember 2004

Rotasi bumi melambat sepersekian detik Seluruh dunia diguncang gempa besar dan tsunami yang melanda Indonesia

Around 8 A.M. on December 26, 2004, an earthquake of magnitude 9.1 hit northern Sumatra in Indonesia, and then shook most of the world by causing the deadliest tsunami in human history. The earthquake was so powerful that it slowed down the earth’s speed of rotation by a tiny fraction of a second. The initial shock was followed by more than a dozen aftershocks. Thailand, India, Sri Lanka, and several other places, especially the Western SumatraProvince of Indonesia, which was closest to the earthquake and experienced the full force of the tsunami, were all devastated by the tsunami. At least 250,000 people were killed and many millions of others suffered losses of all kinds

Sekitar 8 A.M. pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi berkekuatan besar 9.1 melanda Sumatera bagian utara di Indonesia, dan kemudian mengguncang sebagian besar dunia dengan menyebabkan tsunami paling mematikan dalam sejarah manusia. Itu gempa bumi begitu dahsyat sehingga memperlambat kecepatan bumi rotasi dengan sepersekian detik. Kejutan awalnya adalah diikuti oleh lebih dari selusin gempa susulan. Thailand, India, Sri Lanka, dan beberapa tempat lain, khususnya Sumatera Barat Provinsi Indonesia, yang paling dekat dengan gempa dan mengalami kekuatan penuh tsunami, semuanya dilanda gempa tsunami. Sedikitnya 250.000 orang tewas dan jutaan lainnya yang lainnya menderita kerugian dalam berbagai bentuk

The earthquake happened in the short space of a few minutes at the interface of the India Plate and the Burma Plate. Strains that had accumulated for centuries suddenly gave way as the India Plate pushed the overriding Burma Plate upward. When the fault line between these two plates suddenly slipped, a 750-mile-long seabed break appeared and there was a vertical displacement of forty-five feet in the depth of the ocean. The huge volume of water displaced by such an event became a tsunami, one that swept outward in all directions. The earthquake was the fourth biggest anywhere in the world since 1900. A wall of water thirty feet high, traveling at five hundred miles an hour, swept outward from the epicenter causing the greatest number of casualties in the nearby land of Western Sumatra. Within a few hours, places all over the Indian Ocean were impacted.

Gempa bumi terjadi dalam waktu singkat di antara pertemuan Lempeng India dan Lempeng Burma. Strain yang telah terkumpul selama berabad-abad tiba-tiba bergeser saat Lempeng India mendorong Lempeng Burma yang berada di atas ke atas. Ketika garis patahan antara dua lempeng ini tiba-tiba tergelincir, patahan dasar laut sepanjang 750 mil muncul dan terjadi perpindahan vertikal empat puluh lima kaki di kedalaman laut. Volume besar air yang dipindahkan oleh peristiwa semacam itu menjadi tsunami, yang menyapu ke segala arah. Gempa bumi tersebut adalah yang terbesar keempat di dunia sejak tahun 1900. Sebuah dinding air setinggi tiga puluh kaki, berjalan dengan kecepatan lima ratus mil per jam, menyapu keluar dari pusat gempa menyebabkan jumlah korban terbesar di daratan terdekat di Sumatera Barat. Dalam beberapa jam, tempat-tempat di seluruh Samudera Hindia terkena dampak.

 In the Pacific Ocean, earthquakes cannot be accurately predicted in advance. Once an earthquake is detected it is possible to give three hours notice of any tsunami risk. In addition, Pacific people are familiar with tsunamis and are always ready to run to higher ground when a warning comes. There is no similar system in the Indian Ocean. Tsunamis are rare, only seven significant ones in the last century, many of them affecting specific countries only. The first news that reached the western world from Indonesia and the countries that were affected came from Thailand, simply because that country was a tourist center and modern technology was available at the time to give signals and detailed messages to the rest of the world about the tragedy that had happened. The actual damage, of course, was quite different. The loss of life in Thailand, even though it was so close to Indonesia, was less that 5,000, whereas in Sumatra, where the earthquake and the tsunami first hit, the death toll went far beyond the 100,000 level right away. Between Sumatra and Thailand the groups of islands known as the Nicobar and the Andaman Islands were overwhelmed by the tsunami wave that swept over the area quickly after the first event.

 Di Samudra Pasifik, gempa bumi tidak dapat diprediksi secara akurat sebelumnya. Setelah gempa bumi terdeteksi, pemberitahuan tiga jam sebelumnya tentang risiko tsunami dapat dilakukan. Selain itu, masyarakat Pasifik akrab dengan tsunami dan selalu siap untuk lari ke tempat yang lebih tinggi jika ada peringatan. Tidak ada sistem serupa di Samudra Hindia. Tsunami jarang terjadi, hanya ada tujuh yang signifikan dalam satu abad terakhir, banyak diantaranya hanya mempengaruhi negara tertentu. Berita pertama yang sampai ke dunia barat dari Indonesia dan negara-negara yang terkena dampak datang dari Thailand, hanya karena negara itu adalah pusat turis dan teknologi modern tersedia pada saat itu untuk memberikan sinyal dan pesan rinci ke seluruh dunia tentang tragedi yang telah terjadi. Kerusakan yang sebenarnya, tentu saja, sangat berbeda. Korban jiwa di Thailand, meski sangat dekat dengan Indonesia, hanya kurang dari 5.000 jiwa, sedangkan di Sumatera, tempat gempa dan tsunami pertama kali melanda, jumlah korban tewas langsung melampaui angka 100.000. Antara Sumatera dan Thailand, gugusan pulau yang dikenal sebagai Nicobar dan Kepulauan Andaman dilanda gelombang tsunami yang menyapu daerah itu dengan cepat setelah peristiwa pertama.

The first formal warning came from the Pacific Tsunami Warning Center in Honolulu. That, of course, is a center that is designed for the Pacific, and because of the many tsunamis experienced, it has been widely recognized and highly valuable over the years. However, because there is no warning system available in the Indian Ocean, where all the damage would be done, the Pacific Center, immediately had some information about the earthquake and tsunami, and for example, sent out warning signals fifteen minutes after the earthquake. A bulletin was dispatched to all the countries around the Pacific and the countries around the Indian Ocean—Indonesia and Thailand—warning them that a very great earthquake had occurred and precautions should be taken immediately. At that time, within about fifteen minutes of the earthquake, the estimate was that it would be more than a magnitude 8 in terms of the Richter Scale and that, therefore, there was a strong possibility of a tsunami occurring at the same time. There was no living memory of a major tsunami in the Indian Ocean and, in fact, there had been no adequate preparation for that eventuality, simply because of the absence of any tsunamis over the course of the twentieth century. While there was much preparation for giving out warnings, it was a very inefficient system. For example, the official in charge of Indonesia’s tsunami warning system had received the e-mail from the Pacific warning center in the morning immediately following the earthquake. The e-mail message had arrived within a few hours of the earthquake, but was not seen until one day later. The official was not at work on that particular morning and so nothing was really done in time to warn any of the countries that subsequently would be affected by the tsunami, because by the next morning, about twelve or more hours later, the tsunami, certainly the first wave of the tsunami, had long before that time reached Africa and all the major damage that was going to be done had already been done. The indifference of the Indonesian officer was matched by the attitude of the equivalent officer in Thailand.

Peringatan resmi pertama datang dari Pusat Peringatan Tsunami Pasifik di Honolulu. Itu, tentu saja, adalah pusat yang dirancang untuk Pasifik, dan karena banyak tsunami yang dialami, pusat itu telah diakui secara luas dan sangat berharga selama bertahun-tahun. Namun karena tidak ada sistem peringatan yang tersedia di Samudera Hindia, di mana semua kerusakan akan terjadi, Pacific Center segera mendapat informasi tentang gempa dan tsunami, dan misalnya mengirimkan sinyal peringatan lima belas menit setelah gempa. Sebuah buletin telah dikirim ke semua negara di sekitar Pasifik dan negara-negara di sekitar Samudra Hindia — Indonesia dan Thailand — memperingatkan mereka bahwa telah terjadi gempa bumi yang sangat hebat dan tindakan pencegahan harus segera dilakukan. Pada saat itu, dalam waktu sekitar lima belas menit setelah gempa bumi, diperkirakan akan lebih dari berskala 8 dalam Skala Richter dan, oleh karena itu, ada kemungkinan besar tsunami terjadi pada saat yang bersamaan. Tidak ada ingatan yang hidup tentang tsunami besar di Samudra Hindia dan, pada kenyataannya, tidak ada persiapan yang memadai untuk kemungkinan itu, hanya karena tidak adanya tsunami selama abad ke-20. Meskipun ada banyak persiapan untuk memberikan peringatan, itu adalah sistem yang sangat tidak efisien. Misalnya, petugas yang bertanggung jawab atas sistem peringatan tsunami di Indonesia telah menerima email dari pusat peringatan Pasifik di pagi hari segera setelah gempa bumi. Pesan email tersebut telah sampai dalam beberapa jam setelah gempa bumi, tetapi tidak terlihat sampai satu hari kemudian. Pejabat itu tidak bekerja pada pagi itu dan jadi tidak ada yang benar-benar dilakukan pada waktunya untuk memperingatkan negara mana pun yang akan terkena dampak tsunami, karena keesokan paginya, sekitar dua belas jam atau lebih, tsunami, sudah pasti gelombang pertama tsunami, sudah lama sebelum waktu itu mencapai Afrika dan semua kerusakan besar yang akan terjadi telah terjadi. Ketidakpedulian perwira Indonesia tersebut diimbangi dengan sikap perwira setara di Thailand.

When the first news came to the duty officer in that country, his reaction was simply that the earthquake is far away from us and in 1,000 years we’ve never heard of a tsunami affecting this area so it doesn’t seem necessary for me to give a warning out for this one. The general indifference on the part of the duty officers in Indonesia and Thailand may be understandable and, in fact, may not have made any difference to the countries and areas that were first hit. It all happened so quickly because tsunamis travel at more than five hundred mph and there was barely time, even if there had been a warning system, to do much for Thailand, the Andaman and Nicobar islands and, of course, the area that was damaged more than anywhere else, the western part of Indonesia known as Sumatra.

Ketika berita pertama datang ke petugas jaga di negara itu, reaksinya sederhana bahwa gempa bumi jauh dari kami dan dalam 1.000 tahun kami tidak pernah mendengar tsunami yang mempengaruhi daerah ini sehingga sepertinya tidak perlu bagi saya untuk melakukannya. berikan peringatan untuk yang satu ini. Ketidakpedulian umum dari pihak petugas jaga di Indonesia dan Thailand mungkin dapat dimengerti dan, pada kenyataannya, mungkin tidak membuat perbedaan apapun pada negara dan daerah yang pertama terkena serangan. Itu semua terjadi begitu cepat karena tsunami melaju dengan kecepatan lebih dari lima ratus mph dan hampir tidak ada waktu, bahkan jika ada sistem peringatan, untuk berbuat banyak untuk Thailand, pulau Andaman dan Nicobar dan, tentu saja, daerah yang rusak. lebih dari tempat lain, bagian barat Indonesia dikenal sebagai Sumatera.

 It was a different story for India and Sri Lanka. Because of the distance,it took an hour and a half for the main first wave of the tsunami to reach Sri Lanka, and had a warning been given, undoubtedly there would have been some better outcome and many more lives saved than was the case. That first wave caused the death of more than 30,000 in Sri Lanka and over 10,000 on the eastern shores of India before moving on to sweep still further westward over the Maldives, maybe two and a half hours after the initial earthquake, and then six and seven hours later reaching the Seychelles and the shores of Africa in Somalia. For Indonesia, Sri Lanka, and India, the countries where most lives were lost, it should be remembered that life in all of these areas is essentially sea dependant and the homes are concentrated close to the water and, therefore, in low lying areas. This is why destruction was so total. But beyond the actual numbers of people and the loss of life and homes, there was also the huge destruction of the environment and the long time it would take for recovery. 

Ini adalah cerita yang berbeda untuk India dan Sri Lanka. Karena jaraknya yang jauh, gelombang utama pertama tsunami membutuhkan waktu satu setengah jam untuk mencapai Sri Lanka, dan jika peringatan diberikan, niscaya akan ada hasil yang lebih baik dan lebih banyak nyawa yang diselamatkan daripada yang terjadi. Gelombang pertama itu menyebabkan kematian lebih dari 30.000 orang di Sri Lanka dan lebih dari 10.000 orang di pantai timur India sebelum melanjutkan untuk menyapu lebih jauh ke barat melewati Maladewa, mungkin dua setengah jam setelah gempa pertama, dan kemudian enam dan tujuh jam. beberapa jam kemudian mencapai Seychelles dan pantai Afrika di Somalia. Untuk Indonesia, Sri Lanka, dan India, negara di mana sebagian besar nyawa hilang, harus diingat bahwa kehidupan di semua wilayah ini pada dasarnya bergantung pada laut dan rumah-rumah terkonsentrasi dekat dengan air dan, oleh karena itu, di daerah dataran rendah. Inilah mengapa kehancuran begitu total. Tetapi di luar jumlah orang yang sebenarnya dan hilangnya nyawa dan rumah, ada juga kerusakan lingkungan yang sangat besar dan waktu yang lama untuk pemulihan.

In Indonesia, for example, the largest concentration of coral reefs is located in the very area that was hit by the earthquake. These coral reefs served to trap coastal sediments and protect the coast from high waves that might come from just ordinary weather changes. They, overall, provide an ecosystem that is protective of a large variety of fish life and, therefore, on the livelihood of the people who live in that area. Large stretches of rice patties, as well as mangrove and other forests, were completely wiped out by the tsunami in this part of Indonesia. Overall, the most serious threat to the coastal environment—one that will take a long time to be corrected—was the huge amount of natural and manmade materials that were dragged back into the ocean by the receding waters from the tsunami. This could be vehicles, fuel tankers, trees, and just any imaginable kind of debris. The quantities were huge and the damage will remain there for a long time to come. It was a similar problem with water supplies. There is plenty of water available in this part of Indonesia, but the tsunami, bringing salt water many miles inland, contaminated all the surface waters. This is a very poor area in every respect. People are totally dependant on the resources of the physical environment where they live and there is no sewer system for the disposal of waste, so the septic tanks that did exist were severely contaminated by the seawater, as indeed were the various wells that serve as the source of freshwater for a number of areas.

Di Indonesia misalnya, konsentrasi terumbu karang terbesar terletak di wilayah yang terkena gempa. Terumbu karang ini berfungsi untuk menjebak sedimen pantai dan melindungi pantai dari gelombang tinggi yang mungkin berasal dari perubahan cuaca biasa. Mereka, secara keseluruhan, menyediakan ekosistem yang melindungi berbagai macam kehidupan ikan dan oleh karena itu, bagi mata pencaharian masyarakat yang tinggal di daerah itu. Hamparan roti beras yang luas, serta hutan bakau dan hutan lainnya, seluruhnya musnah oleh tsunami di bagian Indonesia ini. Secara keseluruhan, ancaman paling serius terhadap lingkungan pesisir — yang membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki — adalah sejumlah besar bahan alami dan buatan manusia yang terseret kembali ke laut oleh surutnya air akibat tsunami. Ini bisa berupa kendaraan, kapal tanker bahan bakar, pohon, dan sembarang jenis puing yang bisa dibayangkan. Jumlahnya sangat besar dan kerusakan akan tetap ada untuk waktu yang lama. Masalahnya sama dengan persediaan air. Ada banyak air tersedia di bagian Indonesia ini, tetapi tsunami yang membawa air asin bermil-mil ke daratan, mencemari semua permukaan air. Ini adalah area yang sangat buruk dalam segala hal. Masyarakat sangat bergantung pada sumber daya lingkungan fisik tempat mereka tinggal dan tidak ada sistem saluran pembuangan untuk pembuangan limbah, sehingga septic tank yang ada sangat terkontaminasi oleh air laut, demikian pula berbagai sumur yang berfungsi sebagai sumber air tawar untuk sejumlah wilayah.

 Thailand’s main concern about the tsunami relates to tourism, one of the highest income areas for the country, and so the danger of tourists not coming back to the country for fear of another tsunami was a major concern. Quite apart from that factor, the environment was profoundly impacted. Offshore there are extraordinarily rich collections of sea life, some of them quite endangered and extremely valuable. On shore, two miles of the land surface was inundated and the seawater that came with that event destroyed a large number of freshwater areas on land. Almost all of the lakes within that range of the coast, and therefore within range of the main settled areas of the country, were contaminated and it is not clear how long it will take for that to be corrected.

Perhatian utama Thailand tentang tsunami terkait dengan pariwisata, salah satu daerah dengan pendapatan tertinggi bagi negara, dan bahaya wisatawan yang tidak kembali ke negara itu karena takut akan tsunami lagi menjadi perhatian utama. Terlepas dari faktor itu, lingkungan terkena dampak yang sangat besar. Di lepas pantai terdapat koleksi kehidupan laut yang luar biasa kaya, beberapa di antaranya cukup terancam punah dan sangat berharga. Di pantai, dua mil dari permukaan tanah tergenang dan air laut yang menyertai peristiwa itu menghancurkan banyak wilayah air tawar di darat. Hampir semua danau dalam kisaran pantai itu, dan karena itu dalam jangkauan wilayah pemukiman utama negara itu, telah terkontaminasi dan tidak jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaikinya.

One other country in the path of the tsunami, the Maldives, is completely dependent on tourism, even to a greater extent than Thailand. It is located in the Indian Ocean, west of Sri Lanka. One has only to think about one simple statistic to appreciate how total the devastation was for this country. Eighty percent of the land in the group of islands that consti tute this country lie less than three feet above sea level. All together there are more than 1,000 islands forming the country, and maybe two hundred of these are inhabited. Now, of those two hundred, twenty were totally devastated and fourteen of them had to be evacuated. The total population of the country is less than half a million, but it is a very popular destination for tourists because of the climate and because of the uniqueness of the ocean setting everywhere throughout the country. Approximately 13,000 people had to be rescued after the tsunami, and all together probably one-third of the entire population suffered some loss of home, possessions, or livelihood. There was so much flooding that electricity was cut off for many of the islands and there was no communication from island to island for a considerable time. One out of every four of the inhabited islands had experienced serious destruction to its jetties and its harbors and, therefore, to its links with the outside world and its availability for the tourism industry.

Satu negara lain yang juga dilanda tsunami, Maladewa, sangat bergantung pada pariwisata, bahkan lebih besar dari Thailand. Itu terletak di Samudra Hindia, sebelah barat Sri Lanka. Kita hanya perlu memikirkan satu statistik sederhana untuk menghargai betapa total kerusakan yang terjadi di negeri ini. Delapan puluh persen daratan di gugusan pulau yang merupakan negara ini terletak kurang dari tiga kaki di atas permukaan laut. Secara keseluruhan ada lebih dari 1.000 pulau yang membentuk negara itu, dan mungkin dua ratus di antaranya berpenghuni. Sekarang, dari dua ratus, dua puluh orang benar-benar hancur dan empat belas di antaranya harus dievakuasi. Jumlah penduduk negara ini kurang dari setengah juta, tetapi merupakan tujuan yang sangat populer bagi wisatawan karena iklim dan keunikan pengaturan lautan di mana-mana di seluruh negeri. Sekitar 13.000 orang harus diselamatkan setelah tsunami, dan secara keseluruhan mungkin sepertiga dari seluruh penduduk menderita kehilangan rumah, harta benda, atau mata pencaharian. Ada begitu banyak banjir sehingga listrik di banyak pulau terputus dan tidak ada komunikasi dari pulau ke pulau untuk waktu yang cukup lama. Satu dari empat pulau berpenghuni telah mengalami kerusakan serius pada dermaga dan pelabuhannya dan, oleh karena itu, hubungannya dengan dunia luar dan ketersediaannya untuk industri pariwisata.

Needless to say, there was a huge outpouring of sympathy and provision of money for rehabilitation from all over the world. Nothing on this scale had been experienced in living memory so, being a natural catastrophe, everybody felt a degree of responsibility for helping. Getting quantities of money contributed is one thing of course, but getting the supplies and resources for survival to the needy areas is quite another matter altogether. If resources, medication and food are not provided almost immediately, then you have the secondary effects of the disaster—hunger and disease. So everything depends on the speed with which supplies can be delivered to the affected areas. The huge distances involved are in themselves a major hurdle for relief agencies and people providing support to the needed areas. The distance from Indonesia to Sri Lanka to Somalia really takes one halfway around the world.

Tak perlu dikatakan, simpati dan bekal uang untuk rehabilitasi dari seluruh dunia mengalir deras. Tidak ada dalam skala ini yang pernah dialami dalam ingatan yang hidup, jadi, sebagai bencana alam, semua orang merasa bertanggung jawab untuk membantu. Mendapatkan sejumlah uang yang dikontribusikan adalah satu hal tentu saja, tetapi mendapatkan persediaan dan sumber daya untuk bertahan hidup ke daerah yang membutuhkan adalah masalah yang sama sekali berbeda. Jika sumber daya, obat-obatan, dan makanan tidak segera tersedia, Anda memiliki efek sekunder dari bencana tersebut — kelaparan dan penyakit. Jadi semuanya tergantung pada kecepatan pengiriman pasokan ke daerah yang terkena dampak. Jarak yang sangat jauh dengan sendirinya merupakan rintangan utama bagi badan-badan bantuan dan orang-orang yang memberikan dukungan ke daerah-daerah yang dibutuhkan. Jarak dari Indonesia ke Sri Lanka ke Somalia benar-benar butuh setengah jalan keliling dunia.

Quite apart from the logistics of getting supplies to needy areas, there were two other factors that affected the recovery. Number one, there was crime and the opportunities were offered to people who want to take advantage of the situation to grab what they can. This certainly was a factor in a number of areas and relief agencies had not only got there as quickly as possible, but also were unable to come with some protection so that what they were bringing would not be stolen right away. Beyond the crime elements, there was also the range of political considerations. For example, the Indonesian government was very reluctant to accept U.S. warships near its coasts, even though that was the only available transportation method for getting food and medical supplies to the desperate needs of western Sumatra. One compromise that was arranged was to ensure that these warships would stay for a limited length of time. So even with the generosity that was being provided, there were political considerations in some countries that were far greater than the care of their own people. 

Terlepas dari logistik untuk mendapatkan pasokan ke daerah-daerah yang membutuhkan, ada dua faktor lain yang mempengaruhi pemulihan. Nomor satu, ada kejahatan dan kesempatan ditawarkan kepada orang-orang yang ingin memanfaatkan situasi untuk mengambil apa yang mereka bisa. Hal ini tentunya menjadi faktor di sejumlah daerah dan lembaga bantuan tidak hanya sampai di sana secepat mungkin, tetapi juga tidak dapat datang dengan perlindungan sehingga apa yang mereka bawa tidak akan langsung dicuri. Di luar elemen kejahatan, ada juga berbagai pertimbangan politik. Misalnya, pemerintah Indonesia sangat enggan menerima kapal perang AS di dekat pantainya, padahal hanya itu cara transportasi yang tersedia untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan untuk kebutuhan mendesak di Sumatera bagian barat. Salah satu kompromi yang diatur adalah memastikan bahwa kapal perang ini akan bertahan untuk waktu yang terbatas. Begitu pun dengan kemurahan hati yang diberikan, ada pertimbangan politik di beberapa negara yang jauh lebih besar daripada kepedulian rakyatnya sendiri.

In Sri Lanka there was a very special situation that confronted the relief agencies. Sri Lanka has had a civil war that has been going on for many years. The Tamal Tigers in the northern part of the country are fighting for the independence of their part of Sri Lanka. This has been a violent war with many thousands killed over the years. When the relief agencies arrived there was some dispute with government authorities in Sri Lanka about whether the relief should be equally distributed to the rebel areas of the country as well as the other parts further south. This took a lot of time and discussion and the only way it could have been resolved was when relief agencies insisted that there had to be equal distribution or they would have to leave the country entirely. They could not choose those who were going to get help and those who would get no help.

Di Sri Lanka ada situasi yang sangat khusus yang dihadapi badan-badan bantuan. Sri Lanka telah mengalami perang saudara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Macan Tamal di bagian utara negara itu berjuang untuk kemerdekaan bagian mereka di Sri Lanka. Ini telah menjadi perang kekerasan dengan ribuan orang terbunuh selama bertahun-tahun. Ketika badan-badan bantuan tiba, ada beberapa perselisihan dengan otoritas pemerintah di Sri Lanka tentang apakah bantuan itu harus didistribusikan secara merata ke wilayah pemberontak di negara itu serta bagian lain yang lebih jauh ke selatan. Ini membutuhkan banyak waktu dan diskusi dan satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah ketika badan-badan bantuan bersikeras bahwa harus ada distribusi yang setara atau mereka harus meninggalkan negara itu sepenuhnya. Mereka tidak dapat memilih mereka yang akan mendapatkan bantuan dan mereka yang tidak akan mendapatkan bantuan.

The year 2004 ended in a tragedy of unprecedented scale and dimension. Many lessons can be drawn from the disaster that affected nine countries on two continents and claimed over 300,000 lives. One important lesson that emerged from the disaster was the need for monitoring and early warning systems. The loss of human life would have been considerably less had coastal communities had more knowledge and greater awareness of a tsunami risk. The extent of the disaster brought to light the overall lack of awareness and low level of national preparedness. It was seen as imperative, therefore, to build systems to make communities safer and educate citizens on the nature of the threats. A brand new organization was set up to coordinate emergency preparations. An endorsement for it was received from six of the states that were damaged by the tsunami—Bangladesh, Cambodia, Nepal, Pakistan, Philippines, and Thailand.

Tahun 2004 berakhir dengan tragedi skala dan dimensi otentik. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari bencana yang melanda sembilan negara di dua benua dan merenggut lebih dari 300.000 nyawa. Salah satu pelajaran penting yang muncul dari bencana tersebut adalah perlunya sistem pemantauan dan peringatan dini. Jumlah korban jiwa akan berkurang jika masyarakat pesisir memiliki lebih banyak pengetahuan dan kesadaran yang lebih besar tentang risiko tsunami. Tingkat bencana menunjukkan kurangnya kesadaran secara keseluruhan dan rendahnya tingkat kesiapsiagaan nasional. Oleh karena itu, dipandang penting untuk membangun sistem yang membuat masyarakat lebih aman dan mendidik warga tentang sifat ancaman. Sebuah organisasi baru didirikan untuk mengoordinasikan persiapan darurat. Pengesahan untuk itu diterima dari enam negara bagian yang rusak akibat tsunami – Bangladesh, Kamboja, Nepal, Pakistan, Filipina, dan Thailand.

References

Dudley, Walter C., and Lee, Min. 1998. Tsunami. Honolulu: University of

Hawaii Press.

Ikeye, Motoji. 2004. Earthquakes and Animals. Singapore: World Scientific

Publishing Company.

Prager, Ellen J. 1999. Furious Earth: The Science and Nature of Earthquakes,

Volcanoes, and Tsunamis. New York: McGraw-Hill.

Posted in #baca, #bumi, #catatanperjalanan, #environment, #lingkungan, event | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

[muara] Kembali menanti

Kamu kembali setelah menghindarinya lagi

Sempat lupa berapa kali kamu merasa menghindari kebersamaan dengan menginginkannya kembali

lalu terngiang cerita tentang nanah

nanah

putih

nyeri

demam

pilek

nanah mulai kuning

nyeri sepanjang batang

dan demam makin parah

halusinansi malam hari pun mulai berdatangan

ditemani dengan sesak napas

hari ketiga

nanah menjadi kuning pekat

nyeri makin terasa dan demam pun menjadi

siang hari masih bersahabat

dan malam hari pun tak terasa terlewat.

pemikiran untuk bertahan kembali teringat

tentang anak

tentang uang

dan utang-utang yang masih mengantri untuk dibayarkan

tentang waktu yang terus saja berlalu

dan takkan pernah berhenti

tentang melawan orang-orang yang terus saja berasumsi walau belum pasti hasil akhir dari sebuah permasalahan

sama seperti dokter yang yang mampu mendiagnosa hanya dengan dua kata dari pasien. sungguh berpengalaman. sungguh menenangkan. seharusnya. namun terkadang malah membuat rasa muak dan jengah karena merasa tidak diperlakukan seperti manusia. Untuk sekedar diberi pengertian dan perhatian. Hal tersebut sudah sulit didapat saat ini.

Posted in #catatanperjalanan, #laut, #LiFe | Tagged , , | Leave a comment

Excuse? You’re the one who overthinking it

Sungguh menyebalkan jika kamu tidak melakukan sesuatu hal namun orang lain menuduhmu melakukan itu.

Kamu tidak berniat merusak masa depan seseorang namun ia berpikir seperti itu, berdasarkan apa yang kamu ucapkan ditambah dengan apa yang ia pikirkan. Sedangkan faktanya tidak demikian. Semua karena pikiran yang berlebihan.

Hal ini terus berulang. Entah kamu bodoh dan membiarkan orang-orang seperti ini masuk ke dalam hidupmu atau mereka memang mempunyai daya tarik yang tidak bisa kamu bendung. Daya tarik berjudul egosentris.

Hasilnya dari hubungan tersebut?

Sakit hati, emosi Jiwa dan godaan untuk membunuh karakternya.

Tapi tunggu dulu, bukankah mereka sudah melakukan silent treatment terhadapmu?

Telat Bru. Kamu sudah dibunuh duluan.

Posted in #api, #catatanperjalanan, SibukDenganPikiran | Tagged , , , , | Leave a comment