Alien bermata banyak

Alien di dinding kedai kopi mengawasi pengunjung yang sedang duduk. Beberapa berbicara keras, seakan ingin didengar setiap kata yang mereka ucapkan, walau dipertanyakan keabsahan kata yang terucap.

Lalu pasangan yang duduk ditengah ruangan, mereka baru saja berkenalan, lelaki memberikan segelas minuman dengan harapan bisa menemani sang perempuan tiduran. Pembicaraan dasar mengenai dari mana asal, tinggal dimana sekarang,  apa kebiasaan, dan makanan dan minuman kesukaan menjadi bahan. Tak cukup kelihatan dasar-dasar pemikiran dan maksud tujuan yang masih tersembunyi didalam palung hati masing-masing.

Dan lalu perhatian mata Alien di dinding kedai kopi tertarik kepada seorang anak yang sedang sibuk dengan mainannya. Terlihat beban yang telah ada sejak ia dilahirkan. Kondisinya sekarang masih dipertanyakan karena kurangnya kasih sayang. Ia mungkin mengharapkan pelukan untuk menemani tidurnya. Atau mungkin sekedar pertanyaan
“Apakah sudahkah makan?” Anak itu butuh perhatian perempuan, yang sudah lama ia dambakan. Ayahnya pun tahu hal itu, namun belum bisa memberikan kebahagiaan yang ia inginkan.

Dua lelaki yang berada di pojok diam tak berbicara. Ketika akhirnya ada suara dari mulut mereka, bahasa yang hampir sama asingnya dengan asal mata Alien yang melihat dari dinding kedai. Mereka sibuk dengan device yang mereka genggam. Bermain, berbicara, berusaha, menerima pesan, mengirim pesan hingga membully orang, semua bisa dilakukan.

dan setelah diperhatikan,  kedai ini memang tempat mereka yang suka menikmati sakit dan merasa hidup dari device yang ada di tangan. Terlihat betapa pertemuan dengan sesama manusia membuat mereka tidak percaya diri. Interaksi yang terjadi di kehidupan nyata hanya bertahan dalam itungan jam lalu mereka kembali kesepian dalam kesendirian yang memang mereka idamkan.

Tapi, apalah arti perkataan yang serampangan  dari mata Alien di dinding kedai kopi. Aku hanya bisa menempel, bisu dan berpikir. Tak ada yang bisa mendengar atau membalas pendapat yang ku keluarkan.

Hanya satu yang memerhatikan keberadaan aku di dinding kedai kopi yaitu anak yang penuh beban. Ia mampu.

Advertisements

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #Catatan perjalanan, #LiFe, monolog, SibukDenganPikiran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s