Hingga mentari terbit

2014-04-10 17 Phnom Bakeng

Kalian berjalan di tepi jalan sepi malam itu menuju jembatan yang kalian biasa gunakan untuk melihat lampu-lampu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Permainan cahaya selalu membuatmu senang. Dan hal klise, kamu suka ketika ia senang.

Beralaskan rumput kalian duduk di tepi jalan bebas hambatan tersebut, beratapkan bintang dan langit malam kalian berdua membunuh waktu berbicara tentang segala hal yang ada di kepala kalian. Kadang bertubrukan. Pemikiranmu dan pemikirannya. Tentang hal yang sama. Lalu tertawa. Dan lalu kembali berbicara. Begitu seterusnya. 

lalu melihat bulan malu-malu menyinarkan sinar suram, kalian tertegun menatapnya. Entah mengapa, setiap kali menatap bulan, entah purnama ataupun tidak, kalian merasa waktu terhenti sesaat dan membuat badan dan tatapan membeku. Kesuraman bulan perlahan terangkat dan memberikan cahaya yang hanya bisa dilihat mereka yang mau melihat. Didengar oleh mereka yang mau mendengar. Seperti itulah kebahagiaan.

Waktu yang sombong pun mengetuk pintu mentari dan memintanya segera terbit. Semalaman terasa sekejab jika kalian menikmatinya. Gelap tersingkap dan cahaya hangat mentari pagi terasa di kulit, walau masih disertai angin malam yang memang nakal. Kalian memeluk hangat mentari dengan senyum karena kalian sadar waktu kalian sudah usai. Saatnya untuk berpisah. Karena hanya malamlah yang kalian miliki bersama. a0d97-original

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #ingat, #katakata, #LiFe, #monolog and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s