[GunungHutan] Perhatikan Sekitar

db44b-original

Ketika puncak gunung hanya menjadi sebuah tujuan tempat selfie tanpa memperhatikan safety.

Ketika eksistensi berupa foto diri di puncak gunung nan tinggi lebih penting dari pada mengambil sampah yang tergeletak di tempat kita berdiri

Ketika itu nama pendaki semakin tercemar dan bumi pun semakin bersedih..

Mendaki gunung, masih menjadi hiburan ‘murah’ bagi para penikmat alam.

Walau pada kenyataannya, kita tahu bahwa hobi alam bebas membutuhkan peralatan dan biaya yang tidak sedikit. Dibutuhkan stamina tubuh yang sehat dan juga didukung oleh nutrisi yang membutuhkan alokasi dana khusus. Namun, hal tersebut tidak membuat para pendaki berhenti untuk berjalan dan berusaha menemukan diri sendiri dalam setiap langkah menuju puncak.

Setiap gunung memiliki kisah

Gunung Cikuray. Diawali oleh tawa pagi hari di angkutan kota yang membawa kami ke lokasi ‘nyegat’ bis menuju kota Garut, entah tersandung atau keberatan tas, atraksi pagi hari ketika kepala keluar duluan ketika mau turun dari angkot mewarnai pagi yang kayaknya cerah itu xD — cerita mendetail pasti lebih puas diceritakan oleh saksi mata (O0). Setelah puas melepas tawa sambil menunggu bis, perjalanan menuju kota Garut pun di mulai.

Sampai di pos, kita istirahat bentar lalu daftar..dan mulailah pendakian sekitar jam 11.00h. oia, kita biasa nyatet jam perjalanan, selain untuk catatan perjalanan, juga bisa di pake buat estimasi waktu dan parameter tau kondisi badan. Jalur berpasir buat ni hidung kesiksa, dan panas… ya panas. wkwk.. namanya juga jalan siang hari, tapi itu pasir ..beuh ..buat sesak napas. So, dari awal, penjaga disitu yang kebetulan lagi makan, bilang kudu bawa masker, daripada ambil resiko kenapa-kenapa. Safety first. Sepakat.

Sekitar jam 1600 kita sampai di pos 6. Karena terbiasa ga jalan malam dan karena masih banyak yang harus dikerjakan, maka kami mulai mencari tempat datar untuk membuat kemah. Kebetulan masih ada lapak deket jalur menuju pos selanjutnya. Rata, muat satu tenda dan ada pepohonan sehingga bisa dipake buat nyantolin hammock. Ga sampe 15 menit, tenda dan dapur udah jadi, siap masak makan malam.

Setelah makan, kami menikmati api unggun kecil dan menikmati cahaya bulan yang menerobos dari sela-sela dahan pohon. Cahayanya menerpa lantai hutan dan memberikan suasana yang tentram.

a0d97-original

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #aksararaska, #Catatan perjalanan, #gunung, #hiking, #LiFe, #opini, #outdoor, #travel, #words. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s