[muara] Layak kah dirimu?

What define us is what we do, what we said…

tumblr_nsnt8l24bm1scm6j5o1_540

Kawan, nitip gorengan lah” Tetiba pesan di salah satu room messenger yang jarang ada perbincangan menampilkan ‘tanda-tanda kehidupan’ dengan adanya pesan itu. Namun, jika langsung ada perkataan seperti itu, berarti ada perbincangan sebelumnya yang menyatakan ada sebuah perjanjian tentang waktu dan tempat yang telah disepakati untuk menggelar sebuah pertemuan. Ah iya, sesederhana itu memang, pikirmu. Lalu sudah.Titik.

Ketika kejadian tentang pemanggilan seorang karyawan ke ruangan akunting dalam sehari sebanyak dua kali: Pagi hari, ia dipanggil terkait isu cuti berlebih yang di kompensasikan dengan pemotongan gaji. Sesuatu yang wajar pikirnya, karena setiap aksi pasti ada reaksi. Tindakan terbaik yang bisa ia lakukan ialah menerima semua dengan senyum. Namun, senyumnya perlahan memudar, karena permintaannya untuk menyicil pemotongan tersebut, supaya tidak terlalu mempengaruhi perhitungan bulanan, maka ia mengajukan penawaran untuk menyicil sebanyak 3 kali, dan telah disepakati bahwa sejumlah uang hasil kali 22 hari kerja dengan gaji harian lalu di bagi 3 akan mulai dipotong mulai bulan ini. Ia memang menanyakan apabila bisa dipotong mulai depan, karena bulan ini, yang memang mendapatkan bonus tahunan, akan ia gunakan untuk pengobatan ayahnya yang sakit. Ia menaruh harap kepada jawaban sang akuntan yang akan menanyakan hal tersebut ke pemilik perusahan. Senyum perlahan hilang menjadi seringai tertahan ketika akhirnya akuntan tersebut mengatakan bahwa keputusan yang telah disepakati berubah. 3 bulan cicilan menjadi 2 kali dengan alasan memberi efek jera kepada karyawan tersebut agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Alasan untuk pengobatan pun seakan tidak memberi toleransi kepada keputusan pimpinan perusahaan tersebut, dan ditambah dengan faktor penurunan kualitas kerja yang diberikan karyawan kepada perusahaan. Semua itu menjadikan ia kembali ingat bahwa hadapi dengan senyum semua yang ada di hadapan, apapun itu. Sekembalinya ia ke ruangan kerja, ia sudah dengan cepat memutar otak bagaimana menghadapi situasi ini. Namun, di sore hari, sekitar 5 menit sebelum jam kerja usai, kembali ia dipanggil ke ruangan akuntan. Di dalam ruangan itu, ia bertanya-tanya, ada apa lagi yang ia perbuat sehingga kembali dipanggil?. Penjelasan tentang pajak dan sales yang tidak memenuhi target karena ada beberapa project yang tertahan sehingga tidak bisa di invoice dan akan berakibat dengan perhitungan pajak yang njlimet dan kurang dipahami oleh karyawan tersebut, yang memang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang perpajakan, dan baru sadar bahwa yang sedang ia kerjakan saat itu merupakan kunci dari masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan. Jika ia bisa menyelesaikannya sebelum akhir tahun, maka invoice bisa dikirim ke klien dan walau pembayarannya bisa kapan saja, selama tanggal invoice tersebut tidak melewati tahun berjalan, maka semua hal yang njlimet tadi bisa di lewati. Ketika masih duduk di hadapan meja akuntan tersebut, ia kembali berpikir cepat. Sesekali ia berpikir, bahwa dengan mudah ia bisa sabotase dan ia yakin ia pula yang akan mendapat tekanan, jauh lebih dari tekanan yang telah ia dapatkan selama ini, karena ia harus mengerjakan hal yang tidak ia pahami namun karena memang tidak ada orang lain yang mau melakukannya. Ia bisa saja diam dan bertingkah laku seakan tidak ada kerjaan dan melakukan hal lain yang sekiranya menguntungkan dirinya. Ia tahu hal tersebut sangat tidak professional dan tidak dewasa dalam menghadapi situasi ini. Tidak ada yang benar dan tidak ada pula yang salah, karena maising-masing pihak mengaggap tindakan mereka benar. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengerjakan apa yang diminta dan akan bertahan, dengan alasan yang menurutnya layak untuk dilakukan, saat ini.

Aku lihat dua orang ayah merokok bersama anaknya, suatu pemandangan yang akan aku pikirkan berulang kali jika sedang bersama anakku. Entah apa yang di pikirkan oleh mereka, yang pasti tidak memikirkan bahaya yang diakibatkan asap rokok terhadap anak mereka. Asap rokok yang membahayakan diri mereka itu sudah menjadi pilihan mereka, namun sungguh tidak bertanggung jawab jika mereka membahayakan kesenatan anak mereka untuk sesuatu yang  menjadi pilihan berbahaya diri mereka sendiri. Sangat tidak disarankan untuk merokok di samping anak-anak, walau memang merokok sendiri pun sudah berbahaya. Banyak pendapat “Buat apa merokok?”. Apakah untuk terlihat keren atau macho? Terlihat lebih gaul ? Dan bukan hanya bagi laki-laki, perempan pun sama, mereka melakukannya dengan penuh kesadaran. “My money, my choice” kata sebagian dari mereka. “Lebih baik mikirin urusan sendiri daripada mikirin urusan orang lain” sebagian lagi berpendapat. Dan masi banyak komentar lain yang sendada, wajar untuk berpendapat, ini negara demokrasi, setiap pendapat di hargai. Pendapat bahwa untuk merubah kebiasaan sangat sulit, maka cobalah dari diri sendiri terlebih dahulu.

Understanding is way too different from knowing.

Those people who said understand you? Possibly understand in their level of perspective.

Enough? Obviously not.

Pissed off? Should you?

 

 

 

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #aksararaska, #catatanperjalanan, #LiFe, #monolog, #muara. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s