[Badai] Kamu pecah dan akhirnya berbicara kepada diri sendiri

img_20160423_024042673

Peristiwa setengah malam yang takkan pernah aku lupakan.

Jam menunjukkan pukul 21.23h.

“Mana F? jadi gak dia kas bon dulu?” tanyamu kepada I

Sudah sejak jam makan malam kamu menunggu kepastian mereka untuk membeli.

“Masih mandi sepertinya” jawab R yang sama -sama sedang berada pada ruangan itu.

 

Peristiwa yang sudah terlewati itu kembali kamu ingat.

Lalu kamu kembali ke ruangan itu.

Rak buku tinggi berisi buku-buku yang menjadi saksi ketika tubuhmu terkapar, belum makan dan minum selama beberapa hari, 4 hari jika kamu tidak salah hitung.

Matahari berganti malam dan angin pun melewati tubuhmu yang masih saja terkapar, tidak bisa bergerak. Kamu sakit, pikirmu.

Ya, kamu sakit.

d62f27543e365ab5b71ab36a5d825d0a

Kamu melihat dirimu sendiri di air itu. #laut menjadi teman bicaramu dalam kesendirian. Kamu berbicara padanya bahkan tanpa suara. Seakan kamu bisa bertelepati dengannya. Terkadang gerak tubuh pun mengikuti dan berbicara menyampaikan isi piliran yang berebutan ingin keluar dari otak melalui mulut yang hanya satu ini. Ah.

Semua sudah berubah sekarang. Kamu sadar sudah tidak ada lagi rasa menghargai diri sendiri karena kamu pun tidak mendapatkannya dari orang lain. Mereka seakan lupa waktu kalian masih bersama dan berbicara seakan takkan pernah dilupakan setiap kata ketika berjanji jika sedang kesulitan maka bicaralah.

“Aku berbicara. Aku memohon bantuan” pikirmu.

“ah aku sudah berbicara dan memohon” ucap pikiranmu yang satu lagi.

Tidak ada perubahan. Mereka tetap tidak datang menolong.

Bagi mereka yang sudah menolongmu, tentu kamu akan ingat dan tentu kamu akan berusaha untuk menbalas budi mereka. Walau kamu yakin bahwa kebaikan mereka akan dapat di gantikan oleh anak tangga yang membantu mereka menuju surgaNya. Menjauhkan dari nerakaNya.

Lalu kamu sadar bahwa kamu salah.

Aku salah selama ini. Aku salah jika beranggapan bahwa ketika kamu sedang kesulitan, maka akan ada orang yang akan dengan tulus membantumu. Atau akan ada orang yang setidaknya menanyakan apa kabar. Jika mengharapkan ada orang yang selalu ada untukmu di saat kamu sakit tentu sedikit berlebihan apa lagi jika kamu memang hidup sendirian.

Memang ada beberapa yang datang dan membantumu dengan niat baik (kata mereka) namun di penghujung hari, mereka pun berkata sebaliknya. Mengungkit apa yang mereka lakukan lalu berusaha untuk mengatur serta menjustifikasi kondisimu yang memang sedang tidak stabil. Dalam menyikapi orang-orang seperti itu, hanya senyum yang bisa diberikan. Namun, pernah suatu waktu, senyum saja tidak cukup. Terlebih jika kamu di sebut tela berbuat buruk padahal merekalah yang melakukannya. Mereka yang meninggalkanmu ketika kamu sedang kesusahan.

“itu menurutmu” akhirnya ia yang berada di belakang berkata. Sedari tadi ia masih diam memperhatikan.

“Segala sesuatu yang kamu pikirkan itu tentu sudah mereka pikirkan pula” lanjutnya. Mengapa demikian? Karena mereka pun sama-sama manusia sepertim. Jika mereka bukanmanusia barulah kamu bisa berkata seperti yang telah kamu ucapkan tadi.

“Mengapa kamu bisa berkata seperti itu kepada dirimu sendiri?” balasmu.

“Karena itu benar” jawabnya.

Menghargai orang lain .
Bagaimana bisa menghargai orang lain jika belum bisa menghargai diri sendiri?
Bagaimana bisa menghargai diri sendiri jika belum bisa mengenal diri sendiri?

Semua saling terhubung.

ae4d87433413322dbbbe15b5c299a267

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #aksararaska, #badai, #catatanperjalanan, #LiFe, #monolog, Picstory and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s