[laut] Senyum pagi kepada sore

wpid-wp-1444029291882.jpg

 

di lautan luas karakter manusia, terdapat pola

jika diperhatikan seperti buih ketidakteraturan

dan perlahan membentuk lautan keteraturan

Pagi hari, angin mendesir sedikit kencang, membuat kulit seperti enggan untuk menampakkan diri dan belindung di balik kain yang kamu kenakan. Langkah kaki yang mantap, tergesa karena kamu tidak mau ketinggalan bis umum yang akan mengantarkan kamu ke kota. Para pembersih jalan dengan semangat menyapu dan menyingkirkan dedauan kering yang berserakan. Mereka menunduk penuh konsentrasi menatap lawan mereka, sampah dan dedaunan kering yang menunggu nasib untuk di masukkan ke dalam karung dan kelak di bawa ke tempat pembuangan akhir untuk di proses. 

Senyummu pun tak tertahankan melihat situasi itu.

Bahagia itu memang sederhana, ketika kamu masih di beri kesempatan untuk melihat mereka yang bekerja di jalan dan dengan semangat melakukan hal yang tidak semua orang mau melakukannya.

Mereka tidak memikirkan mengenai kenyamanan kerja atau keinginan hati yang kadang berteriak dan menginginkan kehidupan yang lebih layak dari yang mereka rasakan kini.

Mereka pun tidak menghiraukan cuaca ketika mereka sedang berada di jalan. Hujan deras dan terik mentari sudah menjadi kawan bagi mereka sehari-hari.

Tidak ada rasa malas untuk bergerak, tidak ada rasa takut untuk di pandang sebelah mata oleh oknum-oknum masyarakat tingkat atas yang menyepelekan pekerjaan mereka.

Mereka dengan giat berusaha melakukan yang bisa mereka lakukan dengan sepenuh hati.

Dan kamu pun merasakan hal tersebut ketika mendapatkan senyum ramah ketika kamu ucapkan kata “permisi” kepada salah seorang dari mereka.Mereka pun secara bersamaan membalas ucapanmu tersebut.

Sungguh, etika seperti itu tidak diajarkan secara cuma-cuma. Butuh waktu dan proses yang panjang untuk dapat memberikan empati kepada sesama manusia sehingga terjadi keharmonisan seperti yang baru saja kamu rasakan.

Sehingga kamu berpikir, selepas dari tempat kamu melewati mereka yang sedang bekerja tersebut, di pagi hari yang belum juga terang, bahwa mendidik adalah suatu proses menerus dan perlu tanggungjawab untuk melakukannya. Dan jika pendidikan yang diberikan layak, maka terdidik akan dapat bertahan hidup, mampu melewati segala cobaan dan aral melintang yang mungkin akan datang menghadang serta mampu mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik dan semakin baik.

Senyum di pagi hari itu begitu berkesan, hingga melewati hari dan menanti pergantian malam menuju pagi.

Advertisements

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #aksararaska, #catatanperjalanan, #laut, #LiFe, #sosial. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s