Selain di hati, menghakimi begitu mudah… Karena berpikir itu sulit!!! 

Love-Lost-lost-30441382-400-300

Memang sudah bukan jaman Paman Doblang, yang ketika ia berbicara lalu semua terdiam dan mendengar.

Saat ini adalah jaman ketika kita berbicara, orang lain juga ikut berbicara.

Frekuensi suara berinterferensi dan saling meniadakan, bukannya saling menguatkan.

Ketika kata-kata menjadi semakin murah dan tidak ada artinya. apalagi makna dan nilai yang terkandung dalam setiap kata, semua menjadi semu.
“darah dari benci, darah dari sesuatu yang tidak pasti” menjadi kenyataan, sesama ‘saudara’ berperang demi sebuah pemahaman yang manusiawi, darah terbuang sia-sia dan waktu berlalu takkan terulang kembali. semoga bukan menjadi sebuah kesia-siaan adalah jargon basi yang tidak dipahami maknanya oleh mereka yang mengucapkannya.
jargon lain yaitu “pengorbanan yang dilakukan takkan berhenti hingga tetes darah terakhir” apakah hanya sebuah jargon yang hanya bisa di rasakan di hati tanpa bisa dijadikan sebuah realisasi dan dapat dirasakan oleh bersama? Apakah hanya diucapkan demi mendapatkan publisitas dan ketenaran?

Kamu melihat bahwa manusia berubah dan mereka yang tadinya berjalan bersama, satu per satu menghilang dan mengurungkan niat mereka untuk tetap berjalan bersama karena alasan biasa, yaitu  semua butuh makan. kebutuhan semakin banyak dan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas pun menjadi polemik tersendiri.

Tapi, ah, sudahlah.

Cuma itu yang bisa menjadi titik balik.

Manusia mau berubah atau pun tidak, tidak menjadi masalah.

Bagi mereka yang percaya, nanti pun ada masanya untuk pengadilan, tentang benar dan salah, tentang apa yang di perbuat, baik itu terlihat ataupun tidak. Diketahui atau pun tidak diketahui oleh sesama manusia.

Karena manusia bukan tempatnya untuk menghakimi. Cuma bisa berpikir dan beropini.

Tidak kurang, tidak lebih.


Sama seperti kisah dibawah ini, ketika kamu sedang pulang dari pasar dini hari itu, ketika tetiba hasrat untuk buang air kecil tidak tertahan lagi. Kebetulan ada pagar terbuka dan kamu melihat ada pojokan gelap yang sepertinya bisa dijadikan tempat kamu untuk buang air kecil. Tak lama setelah kamu selesai, kamu pun bersiap untuk kembali berjalan namun sayang kamu tidak sengaja membentur kayu sehingga terjatuh dan menimbulkan suara. Segera setelah itu muncul seorang pemuda yang melihat kamu, namun bukannya menghampiri, ia malah bergegas menuju ke gerbang dan menutup pintu gerbang lalu segera masuk kembali ke dalam rumah dan menyalakan lampu depan rumah yang memang gelap.

dia bertanya “ngapain disitu?”

“numpang kencing”.

Lalu ia bertanya, “masa buang air di rumah orang?

“ya namanya juga kebelet” jawabmu polos.

Ia pun bergegas kembali ke dalam rumah tanpa mengindahkan jawabanmu.

Kamu pun terheran dan berjalan menuju gerbang dan membuka gerbang tersebut, lalu berjalan menuju arah jalan.

Ketika kamu sudah di trotoar ia pun kembali teriak dan memanggil sambil membawa sesuatu di tangan kanannya.

Kamu pun membalik dan menatapnya.

Seperti gergaji yang ia pegang itu.

Entah buat apa.

Dialog berikutnya menjadi samar karena ia menuduh kamu maling dan mengancam akan teriak maling.

Menahan ketawa kamu pun menjawab

“Bagaimana kalau kita ketemu Pak RT untuk menyelesaikan salah paham ini?”

“ayo” jawab pemuda tersebut.

Beberapa langkah dari pintu gerbang rumah itu, ia pun berhenti dan balik arah ke rumah.

Kamu pun bertanya “lho, kenapa? tidak jadi ketemu Pak RT?”.

Ia pun menjawab “tidak” secara samar.

Heran kembali ada di pikiranmu, maunya apa pemuda itu? Awalnya menuduh lalu ketika hendak diselesaikan  malah mengurungkan niatnya. Kamu hanya bisa menatap ia yang kembali berjalan ke arah rumah.

Kamu yang saat ini berdiri di pinggir jalan hanya bisa menerima bahwa pemuda tersebut hanya menggertak. Ia tidak berani menerima kebenaran. Bahwa kamu berada disana murni untuk membuang air kecil yang sudah tidak tertahankan.

Kadang kebenaran menjadi semu ketika pikiran manusia menduga hal-hal yang belum tentu kebenarannya.

Mereka berasumsi.


Advertisements

About tuanjuan_

i'm a geek who love adventure
This entry was posted in #LiFe. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s