​[reshare] *Shut-up and get back in the box !!!* By Yat Lessie

Photo by: @tuanjuan_ di KongresLB 2017 FK KBPA BR di gunung Puntang.

S​HUT UP

AND GET BACK IN THE BOX !

[Sana gih …maen layangan dilapangan, mumpung kagak hujan dan anginnya kenceng. Emangnya, apa perlunya maen layangan?. Husss, itu penting, buat naekin “jam-terbang”, alias nambah pengalaman …. he he] 

Itu persoalan kita yang sesungguhnya. 

Jika jam terbang bisa ditambah hanya cukup maen layangan, semua orang pasti sudah melakukannya. Jika jam terbang, bisa dinaekin cukup dengan nyanyi kasidahan dan memainkan alat terbang. Maka semua pihak pasti sudah melaksanakannya. Atau cukup bikin kapal-kapalan, lalu tiup pake mulut .. haah ..haah … lepaskan mengapung ke udara. Kemudian itu pula yang dianggap sebagai jam terbang ….

Jika seorang mahasiswa pecinta alam bisa menaikan jam terbang, cukup dengan memanjat papan panjat di halaman kampus. Lalu alangkah mudahnya mendapatkan skills itu.  Arung jeram cukup di kali, susur gua cukup di gua jepang di Dago Bandung, suasana hutan cukup kemping di pinggir kampung, penanganan bencana cukup bikin kegiatan di kampus, dengan pake sistem kencleng buat ngumpulin duit recehan, baju bekas dan tentu .. mie instan.

Jika ada pihak yang mempertanyakan, apa cukup begitu saja kegiatan Mapala itu. Maka para profesor dan pemegang otoritas di kampus akan segera berkilah … (emang) Siapa suruh Mapala memanjat tebing batu, menuruni gua-gua gelap terdalam, mengarungi jeram paling deras, memasuki rimba terganas. Siapa suruh pula ikut menangani musibah dan bencana alam. Bukankah disana sudah ada Badan dan lembaga pemerintah yang resmi?. Mulai dari Basarnas sampai BNPB dan BPBD. Ngapain mencari-cari resiko yang bisa bikin repot semua orang.

“Sang pemangku pendidikan akan terus berkilah … Bukankah lembaga pendidikan bersifat hanya pembinaan. Selama 4 – 5 tahun disiapkan agar kelak menjadi sarjana. Melalui sistem pendidikan dengan mengandalkan metoda pembelajaran sistem kelas, diskusi, tanya jawab, dan yang paling paling paling banter, cukup dengan mengandalkan simulasi. Alias sebuah proses ‘experimental learning’. Sebuah metoda yang konsisten dilakukan dalam pengajaran ‘hardkills’ di kelas, sampai kegiatan ekstrakurikuler pada lembaga-lembaga penyalur minat mahasiswa dalam UKM … begitu mungkin jawaban dari Pak menteri, Pak Dirjen sampai Rektor dan para dosen.

Hasilnya, sudah bisa kita duga sejak semula. Lulusan perguruan tinggi kita levelnya baru sebatas “siap-tahu”, masih jauh dari “siap-pakai”. Karena metoda pembelajaran yang dipakai baru sebatas simulasi, alias ‘experimental learning’. Jadi masih memakai pendekatan bagaimana agar burung merpati supaya cerdas. Dimasukan kedalam sangkar, diberi 3 tombol dengan warna berbeda, dan merpati lantas jadi hapal, jika yang dipatuk tombol warna tertentu, maka akan mengeluarkan butiran jagung.

Itulah yang disebut kecerdasan sang burung, dalam pendekatan psikologi behaviouristik. Memakai pendekatan simulasi, yang konon untuk “meningkatkan” kecerdasan sang burung. Keberhasilan diukur dari seberapa besar kemampuan merpati dalam memilih sang tombol yang menguntungkan dirinya agar tetap survive.

Padahal, sangkar, ukuran, ruang terbuka, tertutup, jumlah tombol, warnanya dsb., semua berada dalam jaring-jaring kontrol, alias semua sudah serba terkendali, dalam batas-batas yang kita sebut dengan variabel dan parameter. Burung merpati, sebagai alumnus dari percobaan tadi, dianggap sebagai burung sarjana yang lebih cerdas dibanding burung yang lainnya. Hanya karena dia bisa memilih tombol yang tepat.

Mari kita lepas sang burung di alam bebas. Hasilnya dia pasti kebingungan, karena di alam ini ada puluhan, rartusan bahkan ribuan tombol. Semua tombol tadi entah siapa yang mengendalikannya. Setiap tombol bisa berupa hidup atau kematian. Bisa berupa ‘opportunities’ atau ‘threats’ yang mengancam kelangsungan hidupnya. Sang burung memang baru siap tahu, dan sama sekali tidak siap pakai, jika diterjunkan di alam bebas yang sesungguhnya. Karena metoda yang dipakai baru sebatas simulasi kandang sempit dan sederhana  ….

Celakanya, jika pendekatan behaviouristik ini dipakai buat manusia, bernama mahasiswa. Dimana outputnya baru sebatas siap tahu. Yang menjadi siap pakai, ketika harus dididik ulang melalui sejumlah vocational training. Anda tak percaya ? … silahkan tanya pada para pengusaha yang mempekerjakan mereka. Dimana harus ada sekian banyak effort, baik biaya, perhatian dan waktu, agar mereka siap pakai. Masih mending, jika sebatas hardskills/knowledge, yang bahkan embah google masih cukup cerdas untuk menjawab segala keingin tahuan.

Bagaimana jika dibawa ke ranah softskills ?

Bagaimana bentuk siap-tahu militansi, siap-tahu loyalitas, siap-tahu jiwa korsa, siap-tahu amanah, jujur, setia, kreatif, antusias …. semua nilai-nilai tadi baru siap tahu, dan bukan siap pakai. Akhirnya pasti sangat memelas. Bahkan bisa bikin orang mengurut dada. Pantas korupsi BLBI, bank century dan yang terakhir e-KTP yang konon 2,3 triliun itu terjadi. Karena semua pelakunya mestilah para alumnus pendidikan tinggi kita. Sedangkan sejak awal hasil dari pendidikan itu baru siap tahu, alias siap jujur, siap amanah, siap loyal. Sama sekali belum jujur, belum amanah dan belum loyal.

Mapala menolak pendekatan ini …..

Pendekatan sistem pendidikan bukan hanya mengadalkan simulasi,  namun masuk pada ekspidensial learning, melalui metoda partisi patorik. Langsung masuk pada pengalaman realitas nyata, bahkan ketika mereka masih dalam pendidikan dasar, pada saat gunung hutan.

Pak rektor, tebing batu 125 meter itu ada di Citatah. Yang 400 meter ada di Gunung Parang, bukan hanya sekedar papan panjat 10 meter di halaman kampus. Pak dosen jeram deras itu ada di citarik, citarum, cimanuk, bukan kali kecil di pinggir kampung.

Pak menteri, bencana kemanusiaan Sukhoi itu ada di jurang sedalam 500 meter gn Salak. Serakan tubuh yang hangus tercecer itu ada di Puntang saat pesawat merpati jatuh. Tubuh nyaris membusuk ada di pantai-pantai aceh waktu tsunami. Ribuan penduduk yang panik mau mengungsi itu ada di gn Papandayan. Mereka semua butuh uluran tangan yang nyata, yang siap berlepotan lumpur, keringat bahkan darah. Bukan sekedar kiriman simpati duit kencleng, baju bekas dan se-dus mie instan.

Mapala menjadi kritis, karena pendidikan softskills yang mereka terima, bukan sekedar siap tahu, namun sudah SIAP-PAKAI . Mereka bukan siap militan, namun sudah militan. Mereka bukan siap loyal, namun sudah loyal dan paham dengan jiwa korsa. Mereka bukan siap untuk berbakti bagi sang negeri, namun sudah berkubang lumpur di bumi pertiwi.

Mapala adalah mahasiwa yang sudah out of the box dari sistem pendidikan tinggi kita, bahkan saat pendidikan dasar bagi adik-adiknya, mereka siap sebelah kakinya berada di penjara, karena di kriminalisasi.
Kepmen no 155/U/1998, bertanggal 30 juni 1998 masih berlaku hingga kini. Kepmen yang dibuat sangat terburu buru, karena berusia 40 hari setelah rezim Suharto tumbang tanggal 21 mei 1998. Dengan tujuan agar mahasiswa kembali dikandangkan ke kampus, seraya memutus jaringan dengan kakak-kakaknya para alumnus yang juga sangat kritis.

Mapala juga dianggap sebagai kelompok “minat”, seperti UKM yang lainnya. Padahal dari metoda , resiko, bentang jelajah, dll, jauh berbeda. Mereka lebih tepat ke “minat-khusus” , sehingga memerlukan pendekatan sistemik komprehensif yang juga bersifat khusus.

Jika tidak, maka sama saja dengan mengembalikan kaum muda kita untuk ….

Shut-up

and get back in the box !!!
Yat Lessie

Advertisements
Posted in #catatanperjalanan, #feature, #gunung, #hiking, #katakata, #lingkungan, #mountain, #opini, #protes, RePost | Leave a comment

Makna Keluarga itu luas kakak !!! 

Keluarga adalah segalanya. Keluarga bukan hanya karena hubungan darah, garis Keturunan atau memiliki hubungan kekerabatan. Keluarga adalah alasan kenapa kamu berjuang hingga titik darah penghabisan.

Banyak yang tidak mengerti hal ini, karena mereka hanya pandai memandang dari jauh tanpa berani masuk ke dalam dan merasakan sendiri apa yang dinamakan “keluarga”.

Seharusnya keluarga tidak saling menjatuhkan, namun saling menguatkan. Tidak mengharapkan persamaan namun berjalan bersama dalam perbedaan. Indahnya ketika diskusi terjadi, dan mencoba mencari solusi.

Bukankah itu yang selama ini dipelajari?

#words #mountaineer #family #bukanhanyaomongantanpabukti

View on Path

Posted in #LiFe | Leave a comment

Survival di Kota 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Makan untuk hidup!!

Bau nasi basi yang ada di piringmu membuat kamu ingin muntah. Namun kamu tahan. Seharian ini kamu belum makan. Dengan sigap dan lahap kamu menghabiskan isi piring itu dan berhrap perutmu mau bekerjasama. Air putih kamu telan bersamaan dengan nasi-nasi itu. Beberapa tersangkut di lubang gigi yang semakin membesar setiap hari. Kembali perasaan itu datang, dengan kepalan tangan kamu tutup mulut yang hampir saja menyemburkan lagi nasi yang sedang kamu kunyah itu. Kamu belum makam, kembali kamu ingatkan dirimu. Sudah lahap saja, kamu makan untuk hidup. Tidak usah manja dan pilih-pilih makanan. Kamu sudah tidak punya kesempatan untuk memilih lagi. Kamu sudah pernah merasakan memilih makanan yang hendak kamu makan, sekarang sudah bukan saatnya. Sekarang nikmati saja apa yang tersedia.

Kembali kamu teguk air putih, untuk mendoring nasi itu masuk ke dalam kerongkongan. Lagipula, kamu kembali mengingatkan diri, pernah kamu berada di kondisi yang lebih parah, sama sekali tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh, selama 7 hari. Air yang menolongmu kala itu. Seseruput, sekedar membasahi tenggorokan. Lalu disaat ketika kamu makan daun dan cacing, serta buah-buahan yang bisa kamu temukan di hutan. Setidaknya, kondisi sekarang kamu masih bisa bertemu nasi, tanpa lauk, basi dan ini adalah makanan pertama yang masuk ke perutmu hari ini. Syukuri dan nikmati. Itu sudah. Tidak usah kamu pikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu, yang masih memiliki kesempatan untuk memilih makanan yang membuat mereka berselera, kadang mereka makan hanya demi prestise, di tempat mewah dengan porsi yang tidak mengenyangkan, dan menyatakan status sosial agar dapat dikenal dan dinyatakan eksis. Biarkan mereka menikmati masa-masa itu, doa yang terbaik untuk mereka.

Satu suap terakhir, kamu melihat bulir nasi yang terlihat mengkilap basah dan menggoda untuk dibuang ke dalam mulutmu. Warna putih yang suci dan tak bersalah, wajar jika orang tua dulu bilang jangan sekali-kali membuang nasi nanti mereka menangis. Ah, mitos yang penuh makna, kini kamu mengerti mengapa mereka mengajarkan itu. Karena makna takkan pernah bisa langsung dimengerti sesaat setelah dikatakan, melainkan butuh proses dan repetisi. Begitu pula dengan nasi, setelah berulang kali kamu makan, nasi basi memang selalu mengingatkan tentang perjuangan. Berapa jauh langkah yang telah di lalui untuk sampai ke saat ini, berapa ribu beras yang ditanak untuk memuaskan dahaga perut lapar yang setiap hari kamu rasakan. Hanya bisa mengucapkan syukur dari hati terdalam, bahwa kamu masih di beri waktu. Satu suap terakhir.

Posted in #laut, #LiFe, #makanan, #monolog, #pic, #sosial, #story, #survival, #tips, #words | Leave a comment

selow keun heula lur

DSC06805selow keun heula lur

pada berendem aja dulu sana ya, biar adem ^^

Posted in #gunung, #hiking, #ingat, #LiFe, #monolog, #outdoor, #safetyprocedure, #survival, #tips, #words, Caldera | Leave a comment

[laut] Senyum pagi kepada sore

wpid-wp-1444029291882.jpg

 

di lautan luas karakter manusia, terdapat pola

jika diperhatikan seperti buih ketidakteraturan

dan perlahan membentuk lautan keteraturan

Pagi hari, angin mendesir sedikit kencang, membuat kulit seperti enggan untuk menampakkan diri dan belindung di balik kain yang kamu kenakan. Langkah kaki yang mantap, tergesa karena kamu tidak mau ketinggalan bis umum yang akan mengantarkan kamu ke kota. Para pembersih jalan dengan semangat menyapu dan menyingkirkan dedauan kering yang berserakan. Mereka menunduk penuh konsentrasi menatap lawan mereka, sampah dan dedaunan kering yang menunggu nasib untuk di masukkan ke dalam karung dan kelak di bawa ke tempat pembuangan akhir untuk di proses. 

Senyummu pun tak tertahankan melihat situasi itu.

Bahagia itu memang sederhana, ketika kamu masih di beri kesempatan untuk melihat mereka yang bekerja di jalan dan dengan semangat melakukan hal yang tidak semua orang mau melakukannya.

Mereka tidak memikirkan mengenai kenyamanan kerja atau keinginan hati yang kadang berteriak dan menginginkan kehidupan yang lebih layak dari yang mereka rasakan kini.

Mereka pun tidak menghiraukan cuaca ketika mereka sedang berada di jalan. Hujan deras dan terik mentari sudah menjadi kawan bagi mereka sehari-hari.

Tidak ada rasa malas untuk bergerak, tidak ada rasa takut untuk di pandang sebelah mata oleh oknum-oknum masyarakat tingkat atas yang menyepelekan pekerjaan mereka.

Mereka dengan giat berusaha melakukan yang bisa mereka lakukan dengan sepenuh hati.

Dan kamu pun merasakan hal tersebut ketika mendapatkan senyum ramah ketika kamu ucapkan kata “permisi” kepada salah seorang dari mereka.Mereka pun secara bersamaan membalas ucapanmu tersebut.

Sungguh, etika seperti itu tidak diajarkan secara cuma-cuma. Butuh waktu dan proses yang panjang untuk dapat memberikan empati kepada sesama manusia sehingga terjadi keharmonisan seperti yang baru saja kamu rasakan.

Sehingga kamu berpikir, selepas dari tempat kamu melewati mereka yang sedang bekerja tersebut, di pagi hari yang belum juga terang, bahwa mendidik adalah suatu proses menerus dan perlu tanggungjawab untuk melakukannya. Dan jika pendidikan yang diberikan layak, maka terdidik akan dapat bertahan hidup, mampu melewati segala cobaan dan aral melintang yang mungkin akan datang menghadang serta mampu mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik dan semakin baik.

Senyum di pagi hari itu begitu berkesan, hingga melewati hari dan menanti pergantian malam menuju pagi.

Posted in #aksararaska, #catatanperjalanan, #laut, #LiFe, #sosial | Leave a comment

Jongkok!!! 

#jongkok!! Jika kamu bahagia dengan terus menunduk!!

Jika kamu masih tetap menjadi korban!

Jika kaki berhenti melangkah, jika hati tak lagi mencinta…

View on Path

Posted in #LiFe | Leave a comment

[laut]Ketika berbeda itu indah

Ketika berbeda itu indah, maka keindahan adalah sesuatu hal yang sangat mudah di dapatkan. -aksararaska, 2016-

IMG_20161106_175238011.jpg

Ketika semua orang berpendapat tentang kekhawatiran

yang engkau rasakan

hanya sekedar ketakutan berlebihan

Ketika semua pemikiran 

yang berada di dalam 

ingin keluar secara bersamaan

Ketika secara bersamaan

Semua terasa tidak selaras

dengan hati dan air mata yang tersimpan

Setiap kata yang terucap memerlukan sebuah pertanggungjawaban yang pastinya akan di ingat oleh semua orang yang mendengarkan dan menyimak makna yang ada dibalik setiap kata tersebut. Jangan menjadi orang yang hanya bisa berkata namun tidak bisa bertanggungjawab dengan perkataannya.

 

 

Posted in #aksararaska, #laut, #LiFe | Leave a comment